Kamis, Juni 13, 2024
Beranda Sample Page

Sample Page Title

KONTRASTIMES.COM, MALANG, Mengenal dunia Tarekat atau ajaran Tarekat bisa jadi perlu waktu panjang, namun Azida Nur Rohmah, Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiah dan Keguruan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dengan ketertarikannya mengenali tentang Tarekat , Azida mengupas dengan cara sederhana

Menurut Azida, keberadaan tarekat merupakan bagian dari rangkaian proses dalam tasawuf atau dunia sufisme. Pada awalnya tarekat merupakan istilah dalam ilmu tasawuf yang berarti jalan yang ditempuh umat Islam dalam usaha mencari keridhaan Allah SWT dan Rasul-Nya, yang dilakukan dengan metode atau cara-cara tersendiri namun tetap dalam koridor kesufian.

Kemudian perkembangan ini bergeser menjadi suatu organisasi keagamaan yang sangat besar pengaruhnya dalam masyarakat muslim dunia.

Perkembangan ini melahirkan banyak tarekat-tarekat yang diwadahi dalam organisasi tersendiri yang fokus mendalami jalan kesufian tersebut.

Salah satu tarekat yang memiliki pengikut terbanyak ialah Tarekat Naqsabandiyah, tarekat ini berkembang dan bercabang-cabang di beberapa wilayah muslim di dunia seperti, Timur Tengah, India, Turki, hingga Indonesia.

Di Indonesia, Tarekat Naqsabandiyah yang dipimpin oleh seorang mursyid sebagai penuntun jamaahnya memadukan antara nilai-nilai tasawuf dengan budaya sufistik pribumi, sehingga menghasilkan karakteristik dan kekhasan tersendiri yang membedakannya dengan Tarekat Naqsabandiyah di wilayah lain di dunia.

Selanjutnya Azida Nur Rohmah memaparkan mengenai perkembangan Tarekat Naqsabandiyah maka perlu diketahui terlebih dahulu mengenai awal mula munculnya, ajaran-ajarannya, dan pembahasan yang berkaitan dengan Tarekat Naqsabandiyah.

Tarekat ini pertama kali muncul pada abad 14 M di Turkistan. Pendirinya adalah seorang pemuka tasawuf yang masyhur bernama Muhammad bin Muhammad Baha’udin Al Uwais Al Bukhari An Naqsabandi.

Beliau dilahirkan pada tahun 717 H/ 1317 M di Desa Qashrul ‘Arifan, kurang dari 4 mil dari Bukhara tempat lahir Imam Al Bukhari dan wafat pada tahun 791 H/1389 M.

An Naqsabandi belajar tarekat dan ilmu adab dari Amir Sayid Khulal Al Bukhari (w. 772
H/1371 M), tetapi kerohaniannya dididik oleh ‘Abdul Khaliq Al Ghajdawani (w. 617 H/1220 M) yang mengamalkan pendidikan Uwaisi.

Pada usia 18 beliau dikirim ke As Samasi untuk mempelajari ilmu tasawuf dari seorang guru sufi bernama Baba Al Samasi (w. 740 H/1340 M).

Beliau kemudian menerima limpahan kerohanian dan prinsip dasar Tarekat Naqsabandiyah dari Hadhrat Khwajah ‘Abdul Khaliq Al Ghajdawani Rahmatullah ‘alaihi.

Asas – Asas dan Ajaran Tarekat Naqsabandiyah

Asas yang dipegang penganut ajaran dari Tarekat Na qsabandiyah ini terdiri dari sebelas asas tarekat.

Delapan dari asas itu dirumuskan oleh ‘Abdul Khaliq Al Ghajdawani,sedangkan yang tiga merupakan tambahan dari Hadhrat Syeikh Muhammad Baha’uddin Naqsabandi Rahmatullah ‘alaih.

Adapun asas-asas ‘Abdul Khaliq Al Ghajdawani yaitu:

  1. Husy dar dam: “sadar sewaktu bernafas”. Suatu latihan konsentrasi: di mana seseorang harus menjaga diri dari kekhilafan dan kealpaan ketika keluar masuk nafas, supaya hati selalu merasakan kehadiran Allah. Hal ini dikarenakan setiap keluar masuk nafas yang hadir beserta Allah, memberikan kekuatan spiritual dan membawa orang lebih dekat kepada Allah. Karena kalau orang lupa dan kurang perhatian berarti kematian spiritual dan mengakibatkan orang jauh dari Allah.
  2. Nazhar bar qadam, “menjaga langkah”. Seorang murid yang sedang menjalani khalwat suluk, bila berjalan harus menjaga langkah-langkahnya, sewaktu duduk memandang lurus ke depan, demikianlah agar tujuan-tujuan (ruhaninya) tidak dikacaukan oleh segala hal di sekelilingnya yang tidak relevan.
  3. Safar dar wathan, “melakukan perjalanannya di tanah kelahirannya”. Maknanya adalah melakukan perjalanan batin dengan meninggalkan segala bentuk ketidaksempurnaannya sebagai manusia menuju kesadaran akan hakikatnya sebagai makhluk yang mulia. Makna lain yaitu berpindah dari sifat-sifat manusia yang rendah kepada sifat-sifat malaikat yang terfuji.
  4. Khalwat dar anjuman, “sepi di tengah keramaian”. Khalwat bermakna menyepinya seorang pertapa, sementara anjuman dapat berarti perkumpulan tertentu. Berkhalwat terbagi pada dua bagian, yaitu:

a. Khalwat lahir, yaitu orang yang bersuluk mengasingkan diri ke sebuah tempat tersisih dari masyarakat ramai.

Baca Juga:   System Informasi dan Kolaborasi Serta Penjelasan Faktor Penghambat Penggunaan Aplikasi Zalora

b. Khalwat batin, yakni mata hati menyaksikan rahasia kebesaran Allah dalam pergaulan sesama makhluk.

  1. Yad krad, “ingat atau menyebut”. Ialah berzikir terus-menerus mengingat Allah, baik zikr ism al-dzat (menyebut Allah), maupun dzikr nafi isbat (menyebut la ilaha illa Allah).
Baca Juga:   Aqiqah Islam: Upacara Menyambut Kelahiran Anak Dalam Islam

Bagi kaum Naqsyabandiyah dzikir itu tidak terbatas dilakukan secara berjamaah ataupun sendirian sesudah shalat, tetapi harus terus-menerus supaya di dalam hati bersemayam kesadaran akan Allah yang permanen.

  1. Baz Gasht, “kembali, memperbaharui”. Hal ini dilakukan untuk mengendalikan hati agar tidak condong kepada hal-hal yang menyimpang. Sesudah menghela nafas, orang yang berzikir itu kembali munajat dengan mengucapkan kalimat yang mulia ilahi anta maqshudi wa ridhaka mathlubi (“ya Tuhanku, Engkaulah tempatku memohon dan keridlaan-Mu-lah yang kuharapkan”).
  2. Nigah Dasyt, “waspada”. Ialah setiap murid harus menjaga hati, pikiran, dan perasaan dari sesuatu walau sekejap ketika melakukan dzikir tauhid. Hal ini bertujuan untuk mencegah agar pikiran dan perasaan tidak menyimpang dari kesadaran yang tetap akan Tuhan, dan untuk memlihara pikiran dan perilaku agar sesuai dengan makna kalimah tersebut.
  3. Yad Dasyt, “mengingat kembali”. Adalah menghadapkan diri kepada nur Dzat Allah Yang Maha Esa, tanpa berkata-kata. Pada hakikatnya menghadapkan diri dan mencurahkan perhatian kepada nur dzat Allah itu tiada lurus, kecuali sesudah fana (hilang kesadaran diri) yang sempurna. Tampaknya hal ini semula dikaitkan pada pengalaman langsung kesatuan dengan yang ada (wahdatul wujud).

Ahmad Sirhindi dan pengikut-pengikutnya bahkan mengemukakan dalil adanya tingkat yang lebih tinggi, yakni seorang sufi sadar bahwa kesatuan ini hanyalah bersifat fenomenal, bukan ontologis (wahdatus syuhud).

Adapun tiga asas dari Hadhrat Syeikh Muhammad Baha’uddin Naqsabandi Rahmatullah ‘alaih ialah:

  1. Wuquf Zamani, “memeriksa penggunaan waktu”, yaitu orang yang bersuluk senantiasa selalu mengamati dan memperhatikan dengan teratur keadaan dirinya setiap dua atau tiga jam sekali.

Apabila ternyata keadaannya terus-menerus sadar dan tenggelam dalam dzikir, dan melakukan yang terpuji, maka hendaklah ia bersyukur kepada-Nya. Sebaliknya apabila dalam keadaan lalai dan melakukan perbuatan dosa, maka harus segera minta ampun dan tobat kepada Allah, serta kembali kepada kehadiran hati yang sempurna.

  1. Wuquf ’Adadi, “memeriksa hitungan dzikir”, yakni dengan penuh hati-hati (konsentrasi penuh) memlihara bilangan ganjil pada dzikir nafi itsbat, 3 atau 5 sampai 21 kali.
  2. Wuquf Qalbi, “menjaga hati tetap terkontrol”. Kehadiran hati serta kebenaran tiada yang tersisa, sehingga perhatian seseorang secara sempurna sejalan dengan dzikir dan maknanya. Selain kebenaran Allah dan tiada menyimpang dari makna dan perhatian dzikir.

Lebih jauh dikatan bahwa hati orang yang berdzikir itu berhenti (wuquf) menghadap Allah dan bergumul dengan lafadz-lafadz dan makna dzikir.

Kekhasan dari Tarekat Naqsabandiyah

Tarekat Naqsyabandiyah, membedakan dirinya dengan tarekat lain dalam hal dzikir yang lazimnya adalah dzikir diam (khafi, “tersembunyi”, atau qalbi, “dalam hati”), sebagai lawan dari dzikir keras (jahr) yang lebih disukai tarekat-tarekat lain.

Jumlah hitungan dzikir yang diamalkan lebih banyak daripada tarekat lain. Dzikir ini bisa dilakukan berjama’ah, namun mayoritasnya dibaca sendiri-sendiri secara berkesinambungan tanpa mengenal waktu. Ijazah yang diberikan kepada jamaah harus dilakukan secara istiqomah.

Amalan dzikir yang dilakukan kondisional dan tidak mempersulit ini yang menjadi daya tarik besar yang kemudian dapat diterima dan berkembang pesat di Indonesia.

Selain itu dibanding yang lain, tarekat ini lebih toleran dan tidak ekstrem dalam amalan riyadhohnya.
Perkembangan Tarekat Naqsabandiyah di Nusantara
Pada mulanya muncul istilah tarekat ini dimasa Kerajaan Samudera Pasai, yakni ajaran tasawuf wujudiyah yang dibawa Hamzah Fansuri.

Namun kemudian ditolak oleh Nuruddin Ar Raniri yang ketika itu menjabat sebagai mufti. Munculnya Tarekat Naqsabandiyah di nusantara berasal dari Mekkah, yang dibawa oleh para pelajar yang belajar di sana dan oleh para jama’ah haji dan kemudian berpadu pula dengan budaya nusantara. Dengan adanya proses tersebut secara berangsur-angsur Tarekat Naqsabandiyah berkembang dan dikemas dengan ajaran sufistik pribumi yang khas.

Baca Juga:   Sistem Informasi dan Etika Dalam Aplikasi Shareit

Tarekat Naqsabandiyah ini berkembang hampir di seluruh wilayah nusantara terutama di wilayah Sumatera, Jawa, Madura, Kalimantan, dan Makassar, dengan karakteristik dan kekhasan masing-masing sesuai yang diajarkan mursyidnya.

Di Pulau Sumatera, tepatnya di tanah Nagari Koto Kaciak, Pasaman, Sumatera Barat, disebut oleh Azyumardi Azra tarekat ini masuk ke nusantara pada paruh pertama abad ke-17 oleh Jamaluddin, seorang Minangkabau yang mula-mula belajar di Pasai sebelum melanjutkan ke Bait Al Faqih, Aden, Haramain, Mesir, dan India. Ada juga Jalaluddin dari Cangking, ‘Abdul Wahhab atau Syeikh Ibrahim bin Pahad, dan Tuanku Syeikh Labuan di Padang.

Baca Juga:   Inovasi PBNU, Bentuk Badan Khusus

Di Makassar tarekat ini pertama kali dikenalkan oleh Syeikh Yusuf Makassari (1626-1699) yang merupakan keturunan dari kerajaan Islam Gowa, Sulawesi Selatan. Beliau menerima ijazah dari Syeikh Muhammad ‘Abd Al Baqi di Yaman, sebelumnya beliau mempelajari tarekat ketika berada di Madinah dibimbing oleh Syeikh Ibrahim Al Kurani.

Mungkin saja Syeikh Yusuf bukan orang pertama yang menganut tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia. Namun beliau orang yang pertama menulis tentang tarekat ini, sehingga kemudian ia dianggap sebagai orang pertama yang memperkenalkan tarekat ini di Indonesia.

Di Pontianak sebelum kedatangan ‘Abdullah Al Zawawi sekitar tahun 1884, telah dikenal tarekat Naqsyabandiyah Mazhariyah. Banyak dari pengikut tarekat ini yang pernah tinggal di Makkah beberapa lama, tidak hanya mempelajari fiqih dan akidah, namun juga belajar tasawuf.

Orang yang pertama dikenal adalah Utsman Al Puntiani. Namun, yang mengajarkan tarekat di daerah ini bukan Syaikh Utsman, tetapi teman Utsman yang usianya 10 tahun lebih muda dan hidup semasa dengannya, yaitu Isma’il Jabal.

Di Madura, tarekat ini sudah lahir sejak akhir abad ke-19. Terdapat keunikan lain dari tarekat ini yang tidak dijumpai diantara penganut Naqsyabandiyah di Indonesia dan negara lain, yaitu beberapa mursyidnya adalah perempuan.

Mereka tidak hanya bertindak sebagai asisten dari para suami yang lebih dominan, tetapi mereka benar-benar mandiri, seperti Nyai Thobibah, ia mendapat ijazah penuh dari Ali Wafa. Syarifah Fathimah di Sumenep adalah mursyid perempuan lain yang mempunyai pengikut yang sangat banyak sampai di Malang Selatan dan Kalimantan Barat.

Di Jawa Tengah lebih berkembang Tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah seperti di Pati, Rembang, Pekalongan, hingga berkembang pesat di Kebumen. Tokoh penyebar tarekat ini yang terkenal ialah mursyid Muhamad Hadi dari Giri Kusumo dan Muhammad Ilyas dari Sukaraja, Banyumas.

Di Kebumen, Tarekat ini bahkan dijadikan ajaran di beberapa pondok pesantren sebagai amalan dzikir rutin, seperti di Pondok Pesantren Al Huda Jetis.
Pada perkembangan selanjutnya tarekat ini tersebar hampir merata di pulau Jawa, mulai dari ujung Banten, Jawa Barat (Cirebon, Tasikmalaya), dan di Jawa Timur hampir menyeluruh di setiap kabupaten memiliki cabang dari tarekat ini.

Seperti di Jawa Tengah, ajaran Tarekat Naqsabandiyah di Jawa Timur juga diamalkan di pesantren-pesantren, dan jamaahnya merupakan masyarakat muslim secara umum yang ingin mengambil jalan kesufian.

Biasanya mereka yang memilih menekuni tarekat tasawuf ialah orang yang sudah berumur yang memilih menghabiskan hidupnya dengan beribadah dan mendekatkan diri pada Allah SWT.

Azida kemudian menjabarkan, Perkembangan tarekat dalam tasawuf bergeser dari suatu metode salik dalam menjalani kesufiannya, menjadi suatu organisasi keagamaan yang dikembangkan oleh para pengikutnya.

Pengaruhnya yang begitu besar sampai ke Indonesia, dan berkembang pesat hampir di seluruh wilayah nusantara. Asas-asas dan amalan yang diajarkan para mursyid tarekat ini menyesuaikan dengan budaya yang ada, sehingga tercipta kekhasan dan karakteristik yang membedakan dengan Tarekat Naqsabandiyah di wilayah lain di dunia.

Dengan begitu tarekat ini mudah diterima dan menjadi daya tarik pribumi, sehingga keberadaannya berkembang begitu pesat hampir di seluruh wilayah nusantara.tutup Azida

Penulis: Azida Nur Rohmah, Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiah dan Keguruan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Related Articles

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terbaru

Adblock Detected!

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by whitelisting our website.