Minggu, Juni 16, 2024
Beranda Sample Page

Sample Page Title

Kontras TIMES.COM | Semarang, – Dalam rangka penurunan prevalensi stunting di angka 14% pada 2024, Pemerintah menghadapi situasi yang cukup menantang, terlebih saat ini semakin mendekati target waktu yang ditentukan.

Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah inovatif untuk dapat mempercepat pencapaian target tersebut, seperti inovasi yang terdapat di Kota Semarang, yaitu Rumah PELITA (Penanganan Stunting Lintas Sektor Bagi Baduta).

“Saya sangat tertarik di sini ada Day Care, anak-anak diasuh dan dijaga tiap hari, kenaikan [tinggi badan] mencapai 60% ini murni idenya Semarang,” ungkap Wakil Presiden K.H. Ma’ruf Amin usai mengunjungi Rumah PELITA di Jalan Candi Pawon Timur III, Manyaran, Kota Semarang, Kamis (28/12/2023).

Lebih lanjut Wapres menyampaikan, apabila program seperti Rumah PELITA secara data dinilai berhasil menurunkan angka stunting, nantinya akan diduplikasi di berbagai daerah lainnya.

“Kalau model seperti ini berhasil, nanti kita akan kembangkan dan tularkan ke daerah-daerah lain,“ papar Wapres.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Mochamad Abdul Hakam menjelaskan bahwa upaya yang selama ini Pemkot Semarang laksanakan, telah membuahkan hasil yang signifikan.

“Kalau di sini presentasinya Semarang 1,14%, pada awal tahun di angka1.600, kemudian data cut off November sudah 912 anak,” jelasnya.

Abdul Hakam juga secara terperinci menyampaikan bahwa program ini secara intensif menyasar anak-anak dengan kategori stunting dari keluarga kurang mampu.

“Ini rumah penanganan gizi lintas sektor.
Day Care ini [dijalankan] tatalaksana komprehensif, diberikan Bantuan Makanan Tambahan, kegiatan PAUD, makanan ringan, makan siang, lalu kemudian dimandikan sebelum dijemput orang tuanya,” tuturnya.

Ia pun menyebut bahwa nantinya program day care akan diperbanyak hingga di seluruh kecamatan di Semarang.

“Saat ini sudah ada 8 masing-masing di setiap kecamatan, tahun depan 16 day care di masing-masing kecamatan di Semarang, lengkap dengan tenaga nutrisionis dan psikolog pendamping,” pungkasnya.

Sebagai informasi, Rumah PELITA yang diresmikan pada 21 Februari 2023 lalu adalah salah satu inovasi dalam upaya percepatan penanganan stunting di Semarang yang menyasar balita berusia di bawah dua tahun dengan stunting karena pola asuh. Program yang dijalankan di sini melalui pola day care atau Taman Penitipan Anak tanpa biaya. Program ini bertujuan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak dengan membantu orang tua dalam melaksanakan peran pengasuhan, pendidikan, perawatan dan perlindungan selama orang tua bekerja. Rumah PELITA saat ini menangani 10 anak dan telah meluluskan 12 anak sebelumnya.

Baca Juga:   Apresiasi Danseskoau Kepada Nakes dan Panitia, Semangat Melayani Masyarakat
Baca Juga:   Vaksinasi Lansia, Polres Batu Bagi Doorprize

Selain kepada para baduta dengan stunting, Rumah PELITA juga menyelenggarakan program Kelas Ibu Hamil dengan KEK (Kekurangan Energi Kronis), yaitu ibu hamil dengan ukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA) di bawah 23,5 cm atau Indeks Massa Tubuh (IMT) pada pra hamil atau Trimester I (usia kehamilan ≤12 minggu) dibawah 18,5 kg/m2 (Kurus).

Kepada mereka diberikan intervensi berupa penyuluhan tentang kehamilan, Bantuan Makanan Tambahan, senam hamil, dan pemeriksaan perkembangan kehamilan secara lebih intensif. Program ini juga sebagai upaya pencegahan kelahiran anak dengan stunting.

Selain Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Mochamad Abdul Hakam, turut mendampingi Wapres antara lain Pj. Gubernur Jateng Nana Sudjana dan Walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu. (SM/RJP, BPMI – Setwapres/***)

Related Articles

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terbaru

Adblock Detected!

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by whitelisting our website.