Jumat, Mei 27, 2022

Barisan JIBAKUTAI Atau Barisan BERANI MATI

KONTRASTIMES.COM-
Surat kabar “Asia Raya” pada bulan November 1944 menceritakan bahwa Ir. Sukarno menerima sepucuk surat atas nama 400 pemuda di Madiun, Jawa Timur yang konon telah tergabung dalam barisan bunuh diri.

“Setiap orang telah menandatangani selembar kertas yang menyatakan bahwa dirinya bersedia membawa Torpedo berawak, pesawat terbang atau senjata apapun untuk menabrakkan dirinya ke Kapal atau Tank musuh.” Berita tersebut mendapat perhatian dari pemerintahan militer Jepang. Jenderal Yamamoto (kepala pemerintahan militer) ke Madiun untuk menyampaikan pidato kepada anggota barisan.

Teks tersebut kemudian mengatakan “Sejauh ini orang mengira barisan bunuh diri hanya ada di Jepang, tetapi yang sangat mengejutkan kini seluruh Dunia tahu bahwa bangsa Indonesia terinspirasi dengan antusiasme yang sama.”

Desember 1944, kemudian terbentuklah barisan dengan nama “JIBAKUTAI”. Namun, barisan ini tidak seperti sukarelawan murni, sangat diragukan apabila orang-orang berpendidikan dan cenderung lebih rasional seperti mereka akan bersedia melakukan tindakan irasional seperti serangan bunuh diri demi membela Jepang

Des Alwi, pelaku pertempuran Surabaya, mengisahkan bagaimana mulai 10 November 1945 para pelaku bom bunuh diri (Jibakutai/barisan berani mati) mulai berkeliaran di seluruh wilayah Palagan.

Menjelang tengah malam, mereka yang terdiri dari anak-anak muda Fanatik dan hanya bersenjatakan Granat melakukan penyergapan massal terhadap Tank-tank Inggris yang mulai keluar dari sarangnya.

“Mereka ramai-ramai menaiki tank-tank tersebut, membuka kanopi-nya dan langsung menerjunkan diri masuk ke dalam Tank, meledakkan seluruh isinya termasuk diri mereka.” Ungkap Des Alwi dalam “Pertempuran Surabaya November 1945.”

Anggota BBM beroperasi dalam kelompok-kelompok kecil. Masing-masing menjinjing sebuah Bom, kemudian membenturkan diri ke kendaraan musuh yang menghancurkan benteng-benteng berjalan itu.

Tindakan yang kelewat berani ini sangat menonjol pada hari ketiga perang, keberanian mereka menimbulkan kekaguman dikalangan pejuang dan keterkejutan lawan. Tentara Inggris menuding Indonesia menggunakan orang-orang Jepang untuk melakukan bunuh diri, banyak kesaksian Veteran Surabaya akan aksi mereka.

Baca Juga:   Kapolri Terjun Langsung Minta Prokes di Tempat Wisata Diperketat

Catatan-catatan dalam perang kemerdekaan juga tidak menunjukkan pengaruh signifikan pelatihan Jibakutai dalam menghadapi sekutu. Boleh dikatakan bahwa barisan Jibakutai lebih merupakan sebuah bahan propaganda Jepang dibandingkan organisasi nyata yang bersifat militer atau semimiliter.

Baca Juga:   Tutup Bhayangkara Mural Festival 2021, Kapolri: Jaga Kami Jadi Polri Yang Lebih Baik

Banyak pejuang-pejuang diluar Jibakutai yang melakukan serangan bunuh diri, seperti Moh. Toha atau Emmy Saelan yang meledakkan diri ke pihak musuh, karena tidak ingin menyerah kepada Belanda.

Sejarawan Nugroho Notosusanto, Jibakutai tidak lebih dari ungkapan tekad pemuda Indonesia untuk mempertahankan tanah airnya dari ancaman musuh. Kalaupun barisan itu memang ada secara organisasi, jumlah rekrutannya lebih kecil dari pada angka yang dipropagandakan & tidak terlatih.

Pada kenyataannya, kebanyakan serangan berani mati atau bersifat bunuh diri di Surabaya cenderung diambil oleh massa tidak terlatih, yang melakukannya bukan karena pelatihan atau dorongan semangat Jibakutai, tetapi oleh antusiasme dan spontanitas mob yang mengamuk.

Kendati memiliki nilai propaganda yang amat besar, serangan macam ini tidak dianjurkan oleh para pemimpin militer Indonesia setelah pertempuran Surabaya karena besarnya jumlah korban yang diderita tanpa hasil militer yang signifikan. Hingga saat ini keberadaan barisan Jibakutai masih menjadi perdebatan dan penelitian di kalangan.

(*)

Related Articles

- Advertisement -

Berita Terbaru

Adblock Detected!

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by whitelisting our website.