Selasa, Juni 25, 2024
Beranda Sample Page

Sample Page Title

Kontras TIMES.COM | Banyuwangi– Memahami Polemik Keberadaan PT BSI anak perusahaan dari PT Merdeka Copper Gold Tbk di Gunung Tumpang Pitu dengan masyarakat sekitar Gunung Tumpang Pitu, masyarakat Banyuwangi selatan pada khususnya dan secara umum masyarakat di Wilayah Kabupaten Banyuwangi, tentunya tidaklah sama dengan waktu-waktu awal masuknya PT BSI ke-Banyuwangi.

“Saya terjun sebagai aktifis di Banyuwangi semenjak tahun 2006, dan sampai tahun 2021 saya sama sekali tidak tertarik terlibat konflik antara Pemkab Banyuwangi, DPRD Banyuwangi, Masyarakat dan PT BSI, bahkan hingga saat ini 1 sen-pun saya belum pernah merasakan uang tamb ang emas dalam bentuk apapun,” Presiden LBH Nusantara MH Imam Ghozali yang juga merupakan pemimpin Kasepuhan Luhur Kedaton.

Lebih lanjut ia menjabarkan, pihak nya mulai memperhatikan dinamika perjalanan eksploitasi tambang emas di Gunung Tumpang Pitu, justru setelah terdengar luas beberapa masyarakat yang dikriminalkan dan masyarakat disekitar tambang emas tidak memperoleh perhatian lebih dari segala sisi yang semestinya mereka dapatkan berdasarkan amanat Undang-undang.

“Karena itu, memang diperlukan kesabaran, keteguhan dan diperlukan evaluasi ulang dalam menyikapi berbagai persoalan yang terjadi dengan melibatkan semua elemen masyarakat di Kabupaten Banyuwangi, kesabaran dalam mencari solusi harus dipahami sebagai konsekuensi dari keteledoran ” tandas MH Imam Ghozali.

“Karena itu kami (LBH Nusantara dan Pendopo Semar Nusantara) tegas, menolak cara-cara kekerasan yang mengedepankan kekuasaan dan kekuatan dalam menghadapi penolakan Masyarakat terhadap Tambang Emas, apalagi cara-cara yang mengkriminalisasi masyarakat juga kami tolak, karena itu hanya akan memperjelas dan mempertegas adanya pijakan yang salah, dan membuat mengkristalnya kebencian masyarakat yang benar-benar tidak merasakan manfaat dari keberadaan Perusahaan Tambang Emas,” imbuhnya.

Ia menegaskan, penilaiannya tersebut didasarkan atas fakta hasil investigasi, dimana hingga saat ini tidak ada satupun publik figur, toko politik maupun pejabat publik yang mau dan bisa menjelaskan terkait regulasi penerima manfaat adanya Perusahaan Tambang Emas di Kabupaten Banyuwangi.

Baca Juga:   Jelang Kontestasi Pemilu 2024, Pesan Wapres: Lakum Capresukum, Walana Capresuna

Dinamika Awal Masuknya Perusahaan Tambang Emas

Seperti diketahui dan masih diingat, pada awal masuknya PT BSI ke-Banyuwangi tidak lepas dari adanya gerakan penolakan dari warga, aktifis dan bahkan tokoh-tokoh masyarakat, begitupun dengan ormas -ormas besar Islam juga ikut menolak.

Baca Juga:   Peduli Masa Depan Anak-Anak Papua, Satgas Yonif 126/KC Berikan Pendidikan Karakter Sejak Dini Yang Lebih Baik

Meskipun seiring waktu kemudian muncul pula gerakan masyarakat diluar wilayah zona merah Tambang Emas PT Gunung Tumpang Pitu yang membangun gerakan mendukung keberadaan tambang emas di Gunung Tumpang Pitu dengan dalih investasi untuk Kabupaten Banyuwangi.

Selain itu, munculnya gerakan -gerakan tolak investasi tambang emas di Gunung Tumpang Pitu, juga dapat diredam dengan upaya Bupati Banyuwangi saat itu Abdullah Azwar Anas dengan membangun paradigma optimistic.

Paradigma optimistic tersebut disampaikan dalam bentuk konsep pemanfaatan jangka panjang berupa Golden Share, Pengelolaan CSR yang transparan dan terbukanya lapangan kerja dengan terlebih dahulu diadakan pelatihan-pelatihan yang nantinya bisa mendongkrak SDM Warga Banyuwangi.

Konsep lain yang ditawarkan adalah dengan penerimaan hibah saham 10% dari PT BSI untuk Pemkab Banyuwangi yang kemudian dicuil untuk dijual pada akhir tahun 2020, tepat diakhir masa jabatan Abdullah Azwar Anas setelah menjabat Bupati Banyuwangi selama 10 Tahun.

Dinamika Pasca Masuk dan Beroperasinya Perusahaan Tambang Emas

Harus diakui dan di sukuri, setelah beroperasinya Perusahaan Tambang Emas PT BSI di Gunung Salakan, jalannya perusahaan bisa dibilang cukup kondusif, terlebih dengan adanya pengaman Pam Obvitnas.

Hampir,-hampir tidak terdengar masyarakat menyerang perusahaan, terkecuali peristiwa tahun 2015 sebelum PT BSI benar -benar beroperasi.

Beberapa gejolak lain munculnya, terbilang cukup sederhana dari dampak kerusakan jalan akibat lalu lalang armada PT BSI, sehingga muncul penghadangan armada PT BSI.

Terlena dan Melupakan Tujuan Awal

Dengan beroperasinya PT BSI, semestinya menjadi kesempatan Emas bagi pihak PT BSI dan Pemkab Banyuwangi untuk fokus mewujudkan cita-cita atau konsep Awal, sebagaimana yang telah di sampaikan Eks Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Baca Juga:   Patroli Antisipasi Kejahatan 3c di Kawasan Seputaran Cargo Desa Purworejo

Akan tetapi sangat disayangkan, kesempatan emas tersebut berbalik arah, dengan munculnya kelompok -kelompok eksklusif yang mendominasi manfaat keberadaan tambang emas di Gunung Tumpang Pitu.

Kelompok -kelompok eksklusif yang cenderung didominasi kalangan luar masyarakat Zona Merah PT BSI, berakibat minimnya nilai positif yang bisa dirasakan masyarakat luas, mereka juga terkesan sulit menerima aspirasi dari luar lingkaran mereka.

Baca Juga:   Ngangsu Kaweruh Dalam Festival Samin Dengan Tema "Samin Dalam Kaca Mata Dunia"

Kelompok -kelompok eksklusif yang lambat laun menjadi sangat tertutup dan sulit menerima klompok -kelompok baru yang tumbuh dan berkembang di masyarakat Kabupaten Banyuwangi, dan menggap semua orang yang tidak mengikuti mereka dalam Persoalan mendukung keberadaan tambang emas adalah sebagai lawan, tanpa mereka sadari, itu sebagai dampak kegagalan mereka mengakomodir kepentingan masyarakat luas, dimana kepentingan masyarakat umum harus diutamakan diatas kepentingan kelompok apalagi kepentingan individu.

Bersambung ke- Seri Kedua

Sumber: LBH Nusantara dan Pendopo Semar Nusantara
Jurnalis: Desi Dwan

Related Articles

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terbaru

Adblock Detected!

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by whitelisting our website.