KontrasTimes.Com, – Bencana banjir kembali melanda Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, menyisakan duka dan kerugian material yang tak sedikit bagi warganya. Sebanyak 522 unit rumah yang tersebar di 10 desa di Kecamatan Sirenja terendam air bah setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut tanpa henti. Peristiwa ini, yang terjadi pada Jumat, 3 April, dilaporkan pada Sabtu, 4 April, telah memicu keprihatinan mendalam akan kerentanan daerah ini terhadap ancaman hidrometeorologi.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah, Asbudianto, dalam keterangannya, mengonfirmasi skala dampak bencana ini. "Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Donggala telah menyebabkan 10 desa terdampak banjir. Curah hujan yang tinggi memicu luapan air sungai hingga masuk ke permukiman warga," jelas Asbudianto, menggambarkan kronologi singkat kejadian yang merenggut ketenangan malam ribuan penduduk. Luapan air sungai yang biasanya tenang, kini berubah menjadi arus deras yang menerjang, memaksa warga untuk menyelamatkan diri dan harta benda seadanya dalam kegelapan malam.
Penyebab dan Kronologi Bencana
Hujan deras yang mengguyur sebagian besar wilayah Kabupaten Donggala, khususnya di Kecamatan Sirenja, dimulai sejak sore hari pada Jumat, 3 April. Intensitas hujan yang tidak biasa dan berlangsung berjam-jam membuat debit air di sejumlah sungai yang melintasi kecamatan tersebut meningkat drastis. Salah satu sungai utama yang meluap dan menjadi biang keladi banjir ini adalah Sungai Sirenja, yang membelah beberapa desa terdampak. Sungai ini, yang hulunya berada di pegunungan, menerima aliran air dalam jumlah masif, melebihi kapasitasnya untuk menampung dan mengalirkan air ke laut. Akibatnya, pada malam hari, sekitar pukul 20.00 WITA, air mulai meluap dari tanggul dan tepian sungai, perlahan namun pasti merendam permukiman warga yang berada di dataran rendah dan pinggir sungai.
Kondisi geografis Sirenja, dengan banyak permukiman yang berada dekat aliran sungai dan dikelilingi perbukitan, membuat daerah ini sangat rentan terhadap banjir bandang. Ditambah lagi dengan kemungkinan adanya deforestasi di wilayah hulu yang mengurangi daya serap tanah, membuat air hujan langsung mengalir deras ke sungai, mempercepat terjadinya luapan. Infrastruktur drainase yang mungkin belum memadai di beberapa desa juga turut memperparuk kondisi, menghambat aliran air dan memperlama genangan. Warga yang sebagian besar tengah beristirahat di rumahnya terkejut saat air tiba-tiba masuk, memaksa mereka untuk bergegas mengamankan barang berharga dan menyelamatkan anggota keluarga, terutama anak-anak dan lansia, ke tempat yang lebih tinggi.
Dampak Kerusakan dan Sebaran Wilayah Terdampak
Data sementara yang berhasil dihimpun oleh tim BPBD Sulteng menunjukkan sebaran dampak yang cukup merata di sepuluh desa, namun dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Desa Balentuma menjadi salah satu yang paling parah, dengan 177 unit rumah terendam banjir. Disusul oleh Desa Tompe yang mencatat 150 rumah terdampak, dan Desa Lompio dengan 60 rumah. Desa Tanjung Padang juga tidak luput dari terjangan air, dengan 40 rumah terendam.
Selain itu, Desa Dampal dan Desa Tondo masing-masing mencatat 30 unit rumah terdampak. Sementara itu, Desa Lende Tovea melaporkan 35 rumah warga terendam banjir. Asbudianto menegaskan bahwa "Desa Balentuma dan Desa Tompe menjadi wilayah yang terparah terdampak banjir." Kondisi di kedua desa ini sangat memprihatinkan, dengan ketinggian air yang mencapai pinggang orang dewasa di beberapa titik, membuat sebagian besar rumah tidak dapat dihuni.
Tidak hanya rumah tinggal, fasilitas umum yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat juga ikut terendam. Kantor desa, yang seharusnya menjadi pusat koordinasi dan pelayanan publik, serta sejumlah bangunan sarana pendidikan seperti sekolah dasar dan taman kanak-kanak, turut terendam. Kerusakan pada fasilitas publik ini tentu akan menghambat aktivitas pemerintahan dan proses belajar mengajar, menambah daftar panjang dampak negatif dari bencana ini. Untuk Desa Jono Oge, Desa Lende, dan Desa Sipi, petugas masih terus melakukan pendataan di lapangan untuk mengidentifikasi jumlah pasti rumah dan fasilitas yang terdampak, mengingat akses yang mungkin masih sulit di beberapa lokasi.

Kondisi Warga dan Upaya Penanganan Darurat
Beruntungnya, dalam kejadian banjir di Sirenja ini, tidak ada laporan mengenai korban jiwa. Ini menjadi kabar baik di tengah musibah yang melanda. Namun, kerugian material yang ditimbulkan diperkirakan sangat besar. Ratusan keluarga harus kehilangan harta benda berharga mereka, mulai dari perabotan rumah tangga, peralatan elektronik, surat-surat penting, hingga stok pangan. Bagi masyarakat yang mata pencariannya bergantung pada pertanian atau perikanan, banjir ini juga mengancam kelangsungan hidup mereka dalam jangka panjang, karena lahan pertanian terendam dan tambak ikan rusak.
Pasca-kejadian, BPBD Sulawesi Tengah segera bergerak cepat untuk melakukan koordinasi dengan aparat desa setempat dan pihak terkait lainnya. Upaya penanganan darurat menjadi prioritas utama. Tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan langsung diterjunkan ke lokasi untuk membantu evakuasi warga yang masih terjebak, mendistribusikan bantuan awal, serta melakukan pendataan lebih lanjut mengenai jumlah pengungsi dan kebutuhan mendesak mereka.
"Koordinasi dengan aparat desa setempat juga terus dilakukan guna mempercepat penanganan darurat dan pendataan jumlah pengungsi," kata Asbudianto. Pendataan ini krusial untuk memastikan bantuan dapat disalurkan secara tepat sasaran. Posko darurat mulai didirikan di beberapa titik aman, seperti balai desa atau gedung serbaguna, untuk menampung warga yang rumahnya tidak lagi layak huni. Kebutuhan dasar seperti makanan siap saji, air bersih, selimut, pakaian layak pakai, dan obat-obatan menjadi prioritas utama yang harus segera dipenuhi. Tim kesehatan juga disiagakan untuk mengantisipasi potensi penyebaran penyakit pasca-banjir seperti diare, demam, dan infeksi kulit.
Tantangan dan Langkah Mitigasi Jangka Panjang
Bencana banjir di Sirenja ini bukan hanya sekadar peristiwa alam biasa, melainkan cerminan dari kerentanan wilayah Donggala terhadap berbagai ancaman bencana. Wilayah Sulawesi Tengah, khususnya Donggala, memiliki riwayat panjang dalam menghadapi bencana alam, termasuk gempa bumi dan tsunami dahsyat pada tahun 2018 yang menyisakan trauma mendalam dan pekerjaan rekonstruksi yang belum sepenuhnya tuntas. Banjir ini menambah beban berat bagi masyarakat yang masih dalam tahap pemulihan.
Tantangan utama dalam penanganan pasca-bencana adalah aksesibilitas menuju desa-desa terdampak, terutama jika ada infrastruktur jalan yang rusak atau terputus akibat genangan air dan longsor. Distribusi bantuan dan mobilisasi tim relawan seringkali terhambat oleh kondisi medan yang sulit. Selain itu, memastikan keberlanjutan bantuan dan dukungan psikososial bagi para korban juga menjadi pekerjaan rumah yang besar.
Untuk jangka panjang, diperlukan langkah mitigasi yang komprehensif agar kejadian serupa tidak terulang dengan dampak yang lebih parah. Program reboisasi di wilayah hulu sungai menjadi krusial untuk meningkatkan daya serap tanah dan mengurangi volume air yang langsung mengalir ke sungai. Normalisasi dan pengerukan sungai secara berkala juga perlu dilakukan untuk menjaga kapasitas tampung sungai. Pembangunan infrastruktur drainase yang lebih baik di permukiman warga, serta penerapan tata ruang yang mempertimbangkan risiko bencana, harus menjadi prioritas pemerintah daerah.
Edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai kesiapsiagaan menghadapi bencana banjir juga tak kalah penting. Pembentukan tim siaga bencana di tingkat desa dan latihan evakuasi rutin dapat membantu masyarakat merespons lebih cepat dan efektif saat bencana datang, sehingga potensi korban jiwa dan kerugian material dapat diminimalisir. Kerjasama antara pemerintah, masyarakat, sektor swasta, dan lembaga non-pemerintah menjadi kunci untuk membangun ketahanan bencana yang lebih kuat di Donggala.
Masyarakat Donggala, khususnya di Sirenja, kini membutuhkan uluran tangan dan solidaritas dari berbagai pihak untuk bangkit kembali. Meskipun tidak ada korban jiwa, dampak psikologis dan kerugian ekonomi yang ditimbulkan sangat besar. Proses pemulihan akan memakan waktu dan membutuhkan dukungan yang berkelanjutan. Bencana ini menjadi pengingat pahit akan pentingnya kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan alam yang semakin tidak terduga di tengah perubahan iklim global.