Kamis, Juni 13, 2024
Beranda Sample Page

Sample Page Title

Kontras TIMES.COM | Banyuwangi – Timbulnya segala dampak sosial, lingkungan, ekonomi dan politik dari kegiatan pertambangan besar maupun kecil di Kabupaten Banyuwangi tidak bisa lepas dari fungsi DPR-D sebagai wakil rakyat Banyuwangi.

Sikap oportunistik dan asal bapak senang menjadi bahaya latin dikalangan politisi yang kerapkali mengabaikan hak-hak rakyat dan melalaikan tugas serta janji manis sebagai wakil rakyat, tanpa disadari menjadi satu bentuk penyusutan implementasi Ideologi Pancasila.

Begitupun dengan lolosnya kegiatan penambangan emas Gunung Tumpang Pitu, tidaklah semata-mata hasil dari kebijakan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas (kala Itu), tapi peran DPRD yang ikut menyetujui dan meloloskan tanpa syarat yang bisa menguntungkan masyarakat disekitar pertambangan dan masyarakat Banyuwangi secara umum, juga menjadi persoalan moral politik serius yang patut disorot, tidak terkecuali ormas-ormas yang mungkin juga sudah menikmati manisnya uang hasil penambangan Gunung Tumpang Pitu.

Hari ini tidak menutup kemungkinan adanya Otak-otak jenius dibelakang layar yang berusaha terus menerus dengan segala cara menembus barikade masyarakat yang tak kenal lelah bertahan Menjaga dan Merawat SDA Gunung Salakan, sudah sepatutnya menjadi momentum bagi para politisi di DPRD Banyuwangi untuk menunjukkan eksistensi dan kredibilitasnya sebagai wakil rakyat, bukan sebagai predator layaknya musang berbulu domba.

Pundi-pundi penambangan dari pribumi yang layaknya penjajah datang dan pergi meninggalkan kerusakan sumberdaya alam, haruslah kembali menjadi perhatian serius bagi semua kalangan utama tokoh-tokoh masyarakat.

Pembangunan dan pemberdayaan ekonomi yang khususnya dikemas dalam wujud penambangan yang tidak memperhatikan keberlangsungan ekosistem sumber daya alam Hayati, serta kearifan masyarakat lokal, sejatinya Meraka tidak lebih dari poin-poin perwujudan ideologi kapitalisme yang menyamar dan bersembunyi di balik Ideologi Pancasila dan terus berusaha mencari perlindungan melalui produk hukum dan pejabat-pejabat publik serta penegak hukum yang lalim dimana mereka kebanyakan ingin mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya namun enggan jika disebut tamak dan serakah.

Pola kehidupan alam yang dianggap mati tidak jarang dipahami sebagai kesempatan untuk sebisa mungkin merusak, namun tetap saja keserakahan dan ketamakan manusia akan habis kala tiba “sang kala”.

Baca Juga:   Kapolsek Wonodadi Jalin Silaturahmi Dengan Tiga Pilar Dan Perangkat Desa Melalui Program KANDANI
Baca Juga:   Terkait Hibah, Kades Tuliskriyo Blitar Sesalkan Pernyataan Sekjen Kementerian PUPR

Saat ini kita tinggal melihat dan menyaksikan kala Gunung Tumpang Pitu hancur dan pola kehidupan alam didalam dan sekitarnya berubah, kebaikan seperti apa yang dapat kita lihat dan saksikan, nanti baru kita tahu dan sadar siapa-siapa para pendosa yang mengakibatkan semua itu terjadi.

“Nama baik bisa dibeli, hukum bisa diatur, Izin tambang bisa mudah di cetak atau dicabut namun memperbaiki Sumber Daya Alam tidak semudah membuat DONGENG KANCIL BERHASIL LARI dan SEMBUNYI SELEPAS MENCURI TIMUN”

Penambangan Gunung Emas Tumpang Pitu

Melangsir dari artikel berita yang berjudul “Tambang Emas Tujuh Bukit, Kabupaten Banyuwangi” yang tayang di indoplaces.com Jumat, 26 Juni 2015 12:35:00.

Kawasan tambang emas Tujuh Bukit atau Gunung Tumpang Pitu berada di kawasan perbukitan yang punya 7 puncak. Pihak perusahaan lebih suka menyebutnya sebagai Tujuh Bukit. Masyarakat lokal lebih suka menyebutnya sebagai Gunung Tumpang Pitu, yang konon karena bentuknya seperti 7 buah gundukan nasi tumpeng.

Apapun nama yang dipakai, yang pasti kawasan ini berada di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi. Perbukitan ini berada tepat di bibir pantai selatan Jawa Timur, di tepian Samudera Indonesia, bertetanggaan dengan kawasan wisata pantai Pulau Merah.

PT Merdeka Copper Gold Tbk, sebagai pemilik tambang, mungkin terkesan baru. Para direkturnya pun bukan sosok yang populer di jagad media tanah air. Meski begitu, jajaran komisarisnya dipenuhi sosok-sosok yang amat terkenal.

Jabatan presiden komisaris ditempati AM Hendropriyono, mantan Kepala BIN yang juga presiden komisaris TransCorp. Komisaris lainnya tak kalah populer: Edwin Soeryadjaya, putra mendiang Edward Soeryadjaya, pendiri Astra Group; Garibaldi Tohir alias Boy Tohir, bos tambang batubara Adaro; dan Zanuba Arifah, putri mendiang Presiden Abdurahman Wahid.

PT Merdeka Copper Gold Tbk merupakan nama perusahaan yang baru dipakai menjelang go public. Sebelumnya, perusahaan ini dikenal dengan nama PT Merdeka Serasi Jaya. Adapun yang secara operasional menangani tambang adalah dua anak perusahaannya: PT Bumi Suksesindo dan PT Damai Suksesindo. Sebelum go public, PT Merdeka Serasi Jaya adalah perusahaan milik Saratog Group, perusahaan investasi kepunyaan Sandiaga Uno dan Edward Soeryadjaya. Perusahaan ini baru dibentuk pada 2012 dan kemudian –via PT Bumi Suksesindo– membeli hak tambang emas Tujuh Bukit dari PT Indo Mukti Niaga. Pada 2013, PT Merdeka Serasi Jaya menghibahkan 10 persen sahamnya ke Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.

Proses pengalihan tambang emas dari PT Indo Mukti Niaga ke PT Bumi Suksesindo sempat heboh pada tahun 2013. Mitra perusahaan yang pertama, Intrepid Mines Ltd (Australia) membawanya ke ranah hukum. Tapi akhirnya kisruh bisa diselesaikan setelah Intrepid Mines menerima kompensasi senilai 2 juta dolar dari PT Bumi Suksesindo. Kalau ingin sedikit menyimak masa lalu tambang emas Tujuh Bukit, Intrepid Mines Limited masih menyediakan dokumen ‘Proyek Tujuh Bukit 2012: Laporan Berkelanjutan”.

Baca Juga:   Terkait Hibah, Kades Tuliskriyo Blitar Sesalkan Pernyataan Sekjen Kementerian PUPR
Baca Juga:   Stop Perizinan Gelap, 10 Izin OP PT BSI Berakhir Termasuk SK IUP Ekplorasi PT DSI

Laporan Intrepid Mines Limited itu juga menegaskan bahwa Gunung Tumpang Pitu hanyalah salah satu dari sekian banyak area berpotensi emas yang ada di lahan konsesinya. Tumpang Pitu berada di sisi tenggara area konsesi.

Area yang potensi emasnya terbesar kedua adalah Salakan, di sisi barat laut area konsesi.

Area lain yang sudah dieksplorasi adalah Gunung Manis, Katak dan Candrian, yang terletak di sebelah timur Tumpang Pitu.

Keseluruhan area tambang ini, yang totalnya mencapai 11.621 hektar lantas dilabeli sebagai Proyek Tambang Emas Tujuh Bukit.

Penulis: Kyai Kasepuhan Luhur Kedaton

Related Articles

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terbaru

Adblock Detected!

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by whitelisting our website.