Minggu, Juni 16, 2024
Beranda Sample Page

Sample Page Title

KONTRASTIMES.COM- JAKARTA | Kyai Kasepuhan Luhur Kedaton, sangat berharap Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mencabut surat edaran (SE) Nomor 05 tahun 2022 yang mengatur penggunaan pengeras suara di masjid dan mushola.

“Dalam usul fiqh kita tahu.
‎درء المفاسد مقدم علي جلب المصالح
Menolak sesuatu yang mendatangkan kerusakan didahulukan atas sesuatu yang mendatangkan manfa’at”.ucapnya.(25/02/’22)

“Tapi sebelum saya lanjutkan, terlebih dulu saya sampaikan kalau saya bukan orang yang pintar agama”.katanya

“Nanti saya bilang begini dipikir Nguyahi Segoro”.kan jadi salah faham lagi

Namun terkait terbitnya aturan penggunaan pengeras suara di masjid dan mushola, saya mencermati tidak didasarkan pada kajian sosiologis yang matang dan kurangnya setudi kasus bahwa suara pengeras suara di masjid dan mushola itu menimbulkan keresahan masyarakat antar ummat.

Dan untuk dapat memahami aspek sosiologis, menurut saya satu-satunya cara dengan merubah sikap elitis yang condong hanya memilih dan mendengarkan saran dari kalangan-kalangan tertentu, menjadi sikap populis dan merakyat.

“Dalam sejarah penggunaan pengeras suara hampir digunakan semua agama, cuman Waktu nya saja yang berbeda-beda dan untuk itu setiap daerah punya kebijaksanaan lokal masing-masing, seperti di Bali atau Kota Mataram yang disebut sebagai Kota 1000 Masjid”. tandasnya.

Dalam kisah wali songo kita mendengar kisah ” Ketika suara Azan Santri Sunan Tembayat yang ada di bukit Jabalkat terdengar sampai Pusat kerajaan Demak, kemudian ditegur untuk mengecilkan suara, tapi itu bersifat kasuistik dan hanya diingatkan, tidak dibuatkan aturan”. Imbuh Kyai Luhur Kedaton

Sebagai contoh Kegiatan Masjid dan Mushola kalangan warga NU atau Kyai-kyai NU di Desa-desa, termasuk desanya, mereka sudah terbiasa bersanding dengan kegiatan agama lain seperti agama Hindu di Pure dan agama Kristen di Gereja itu tidak pernah merasa saling terganggu

“Seperti dirumah saya jarak dengan Pure Hindu hanya sekitar 200 meter, Disamping desa saya Masjid dan Gereja hanya berjarak 250 Meter, dan itu tidak pernah menjadi masalah, padahal disekitar Pure dan Gereja tersebut banyak umat Muslim, karena kita masing-masing menyadari apa yang mereka lakukan bagian dari kewajiban ke Agamaan yang mereka yakini”.imbuh Kyai Luhur Kedaton.

Baca Juga:   SE Kemenag Tentang TOA dan Kepentingan Kelompok Kudrun Ekstrimisme Anti Islam

Sisilain untuk dikalangan pesantren, pengunaan pengeras suara pada amaliyah-amaliyah tertentu terkadang itu juga menjadi warisan kebiasaan guru atau para kyai sebelumnya, dan tentunya ini seperti seseorang yang kolod, ” padahal mereka berusaha Istikomah, tawadu’ dan ngalap berkah terhadap prilaku guru atau kyai , termasuk saat menggunakan pengeras suara dan perlu diingat dalam sejarah pengeras suara juga menjadi bagian dari cara dakwah atau siar agama nya masing, termasuk pada era wali songo”.Pungkas Kyai Luhur Kedaton.

Baca Juga:   Ramadhan semakin Berkah, Puluhan Yatim Piatu Terima Santunan dari Kantor Pasar Induk Cikopo

Edito: Ilma Islami

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari kontrastimes.com dan download aplikasi kami, menarik untuk dicoba, setelah di install (klik SKIP pojok kanan atas langsung masuk Berita-berita Ter update) di:

https://play.google.com/store/apps/details?id=com.kontrastimes.indonesia

Related Articles

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terbaru

Adblock Detected!

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by whitelisting our website.