Selasa, April 16, 2024
Beranda Sample Page

Sample Page Title

KONTRAS TIMES.COM- KEDIRI | Jika nama al-Wasil tercantum pada inskripsi Setana Gedong, nama Syamsuddin dicatat dalam historiografi Jawa yang tersimpan di Museum Nasional Jakarta.

Di dalam historiografi Jawa, tokoh Syaikh Syamsuddin al-Wasil disebutkan sebagai ulama besar asal Negeri Ngerum/Rum (Persia), yang datang ke Kediri untuk berdakwah dan atas permintaan Raja Kediri Sri Maharaja Mapanji Jayabhaya membahas kitab Musyarar, yang berisi ilmu pengetahuan khusus seperti perbintangan (ilmu falak) dan nujum (ramal-meramal).

Syaikh Syamsuddin al-Wasil juga disebutkan sebagai ulama besar asal Negeri Ngerum/Rum (Persia), yang datang ke Kediri untuk berdakwah dan atas permintaan Raja Kediri Sri Maharaja Mapanji Jayabhaya membahas kitab Musyarar, yang berisi ilmu pengetahuan khusus seperti perbintangan (ilmu falak) dan nujum (ramal-meramal).

Dari catatan-catatan historiografi dan cerita tutur masyarakat muslim Jawa meyakini bahwa Syekh Al Wasil Syamsuddin yang dikebumikan di kompleks makam Setana Gedong adalah seorang tokoh sufi yang sakti asal negeri Rum (Persia), yang diyakini menjadi guru rohani Sri Mapanji Jayabaya Raja Kediri.

Prabu Jayabaya merupakan Raja yang identik dengan ramalan masa depan Nusantara, Gelar dari Prabu Jayabaya Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa.

Terdapat beberapa naskah yang berisi “Ramalan Joyoboyo”, antara lain kitab Musyarar, Serat Pranitiwakya, dan lain sebagainya, masa Pemerintahan Prabu Jayabhaya dianggap sebagai masa kejayaan Kediri. Peninggalan sejarahnya berupa Prasasti Hantang (1135), Prasasti Talan (1136), dan Prasasti Jepun (1144), serta Kakawin Bharatayuddha (1157).

Lantaran itu, situs makam kuno Syekh Al Wasil Syamsuddin yang terletak di dekat reruntuhan Candi Kuno di kompleks Pemakaman Setana Gedong Kota Kediri itu, sampai kini masih dijadikan pusat ziarah dan dikeramatkan oleh masyarakat.

Makam Syaikh Syamsuddin semula berada di tempat terbuka dan Untuk menghormati jasa-jasanya, dibangunlah makamnya oleh seorang Bupati Suryo Adilogo (menurut sumber historiografi adalah mertua Sunan Drajat putra Sunan Ampel) hidup di abad ke-16, maka masuk akal jika bangunan makam Syaikh Syamsuddin secara arkeologis berasal dari abad ke-16.

Ngali Samsujen berkata: “Sang Prabu Jayabaya, perkenankan saya memberi petuah padamu mengenai Kitab Musarar//Yang menyebutkan tinggal tiga kali lagi kemudian kerajaanmu akan diganti oleh orang lain”.(Kutipan Kitab Musarar)

Menurut Prof. Fauzan Saleh dan Dr. Nur Chamid (keduanya dosen IAIN Kediri), dan terbit dalam artikel berjudul, “Rekonstruksi Narasi Sejarah Syekh al-Wasil Syamsudin dan Peranannya dalam Penyebaran Islam di Wilayah Kediri dan Sekitarnya: Menggali Pijakan Mempertegas Identitas IAIN Kediri” (Prosiding Nasional, Pascasarjana IAIN, 2018).

Islam hadir di Kediri tepatnya pada abad ke-11 M, masa ketika wilayah ini masih berbentuk kerajaan Hindu-Buddha dan sedang berada pada puncak keemasannya.

Tradisi Hindu-Buddha yang mengakar di masyarakat menjadi tantangan tersendiri bagi Syekh Wasil ketika memulai syiar Islam ke tanah Jawa.

Mengingat kala itu adalah masa kejayaan kerajaan Hindu-Buddha di Kediri, maka kecil kemungkinan Islam bisa berterima dengan mudah dilihat dari segala sisi; sosial, politik, dan keagamaan.

Dalam beberapa kutipan dikatakan bahwa masyarakat Jawa pada saat itu gemar sekali melakukan sesembahan kepada roh-roh leluhur. Sekalipun tidak terlalu ‘ambil pusing’ dengan istilah agama, masyarakat sudah menerapkan etika atau unggah–ungguh layaknya masyarakat beragama.

Sebelum kedatangan Syekh Wasil ke tanah Jawa dikatakan bahwa banyak orang Jawa sudah mengikuti ajaran Islam, tapi sejatinya itu hanyalah wujud dari rasa karsa mereka terhadap Sang Hyang-Nya.

Dalam kutipan Kitab Musarar ini merekam perjumpaan antara Syekh Wasil dan Prabu Jayabaya sehingga muncul pendapat bahwa hubungan keduanya adalah guru-murid. Kutipan bait tersebut adalah sebagai berikut:

Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, Musuh takut dan takluk, tak ada yang berani//Beliau sakti sebab titisan Batara wisnu. Waktu itu Sang Prabu menjadi raja agung, pasukannya raja-raja//Terkisahkan bahwa Sang Prabu punya putra lelaki yang tampan. Sesudah dewasa dijadikan raja di Pagedongan. Sangat raharja negara-nya.//Hal tersebut menggembirakan Sang Prabu//Waktu itu tersebutkan Sang Prabu akan mendapat tamu, seorang raja pandita dari Rum bernama, Sultan Maolana//Lengkapnya bernama Ngali Samsujen// Kedatangannya disambut sebaik-baiknya//Sebab tamu tersebut seorang raja pandita lain bangsa pantas dihormati//Setelah duduk Sultan Ngali Samsujen berkata: “Sang Prabu Jayabaya, perkenankan saya memberi petuah padamu mengenai Kitab Musarar//Yang menyebutkan tinggal tiga kali lagi kemudian kerajaanmu akan diganti oleh orang lain”. Sang Prabu mendengarkan dengan sebaik-baiknya. Karena beliau telah mengerti kehendak Dewata//Sang Prabu segera menjadi murid sang Raja Pandita. Segala isi Kitab Musarar sudah diketahui semua. Beliaupun ingat tinggal menitis tiga kali. (Terjemahan Kitab Musarar bisa dilihat di link:https://ahmadsamantho.wordpress.com/2012/10/30/kitab-musarar-jayabaya/ ).

Baca Juga:   Kyai Luhur Kedaton Ziarah Makam Tumenggung Surontani R.Kertoyudo

Menurut Agus Sunyoto, hubungan guru-murid antara Prabu Jayabaya dengan Syeikh Syamsuddin Wasil juga disinggung dalam kakawin Hariwangsa pada epilog yang memaparkan keberadaan Sri Mapanji Jayabaya dengan guru yang juga penasehatnya. Digambarkan bahwa Wisynu telah pulang ke surga tetapi turun kembali ke bumi dalam bentuk Jayabaya pada Zaman Kali untuk menyelamatkan Jawa. Sebagai titisan Wisynu, Sri Mapanji Jayabaya ditemani oleh Agastya yang menitis dalam diri pendeta kepala Brahmin penasehat raja. Lebih jauh Agus Sunyoto mengutip Prof. Dr. Poerbatjaraka dalam Agastya in den Archipel, yang memaparkan hubungan Jayabaya (sebagai titisan Wisynu) dengan gurunya (titisan Agastya) dengan mengutip Kakawin Hariwangsa yang ditulis oleh Mpu Panuluh, yang terjemahannya sebagai berikut:

Baca Juga:   Maknai Peringatan Hari Juang TNI AD Ke-77, Kodim 1710-Mimika Gelar Doa Bersama

“Ada sebuah negeri yang indah. Keindahannya laksana dalam impian, disebut Pulau Jawa. Sebuah pulau yang megah / Jawa adakah kitab dari Agastya yang sakti tiada bandingan/ pulau itu sekarang dihinggapi ketakutan sehingga keindahannya lenyap// kemudian berkumpul dewa-dewa bersama Hyang Aswi/ bersama-sama memohon dengan sangat kepada Bhatara Padmanabha/ untuk memperbaiki dan menjaga keindahan pulau tersebut/ Dewa Hari ikut serta pergi ke sana// kini dia telah benar-benar menjadi raja/ yang menyempurnakan lagi kehidupan hamba sahayanya/ dia adalah inkarnasi dari Madhusudana-awatara/ dia termasyur dengan nama Sri Jaya-satru (Jayabaya)//

Agastya yang suci tidak ketinggalan dan buru-buru berinkarnasi/ menjadi bhiksu pandhita-aghikara/ menjadi guru sang raja yang percaya dengan ajarannya/ dia menjadi pejabat tinggi yang dipatuhi di seluruh negeri// raja memerintah di dunia dengan teguh/ semua musuh Sri Naranatha mengelu-elukannya/ disebabkan wibawa sang muni (petapa) yang besar/ yang sangat mendalam pengetahuannya tentang mengatasi bahaya rohani/ dia berhasil menentramkan lagi dunia/ setiap orang berusaha berbuat baik, hidup seperti santri mempelajari kitab suci/ kaum “parasit” yang miskin dan hina dina/mendadak didatangi kegembiraan// apa yang dipikirkan raja dalam hati/ uang berlimpah seperti hujun turun sepanjang tahun/ terwujud dalam kenyataan/ menjadikan raja bersenang-sebang menikmati kebahagiaan/”

Terkait dengan kata “Pandhita” dalam kutipan Kakawin Hariwangsa di atas, Agus Sunyoto menafsirkan bahwa julukan bhiksu dan pandhita dalam tradisi jawa kuno tidak hanya menunjukkan tradisi agama Hindu saja. Ia mencontohkan bahwa wali songo yang datang beberapa ratus tahun setelah Syeikh Syamsuddin Wasil juga dijuluki sebagai Panditha, seperti Syeikh Maulana Malik Ibrahim, Pandhita Ampel (Sunan Ampel), Raja Pandhita  Gresik (Ali Murtadho), dan Pandhita Giri (Sunan Giri).

Dalam kerangka ini, bila kita merujuk pada literatur masyarakat, memang terlihat bahwa Prabu Jayabaya memiliki seorang guru yang memahami ilmu perbintangan dan peramalan (nujum), sehingga ia mampu menulis ramalan tentang Nusantara. Tapi terkait dengan siapa guru yang dimaksud, naskah-naskah kuno tidak menyebutkan secara rinci. Kita hanya tau bahwa Maolana Ngali Samsujen yang tersebut dalam Kitab Musyarar, sangat mungkin adalah Syeik Syamsuddin Wasil. Hanya saja, kita belum mendapatkan penjelasan yang cukup memuaskan tentang sosok ini. Mengingat, sosoknya yang sangat tersendiri, dan sangat sulit dikaitkan dengan berbagai kronologi kesejarahan Islam yang ada di Jawa.

Salah satu bukti arkeologis yang dianggap sebagai bukti peninggalan sosok bernama Syeikh Syamsuddin Wasil adalah sebuah makam di daerah Kediri, Jawa Timur. Menurut Agus Sunyoto, Makam Syeikh Syamsuddin Wasil atau Sulaiman Wasil Syamsuddin, termasuk makam islam tertua setelah Fatimah binti Maimun. Makam ini terletak di kompleks makam Setana Gedong, Kediri

Menurut Claude Guillot dan Ludvik Kalus dalam karyanya berjudul “Inkripsi Islam Tertua di Indonesia”, makam yang dimaksud ini adalah salah satu artefak yang paling misterius. Karena makam ini sangat layak untuk diteliti, namun hampir tidak ada publikasi ilmiah yang menerbitkan penelitian soal makam ini. Satu-satunya penelitian yang pernah cukup intens dilakukan terhadap makam ini adalah hasil survei epigrafi Islam yang dilakukan Louis-Charles Damais. Dalam laporan tersebut, Damais berkomentar ”Di masa yang lebih kini, banyak situs dapat dijadikan pokok penelitian, seumpama Sentana Gedong di Kediri. Di pekuburan ini terdapat makam seorang tokoh yang antara lain disebut sebagai “al-Imam al-Kamil”, yang efitafnya diakhiri dengan keterangan “al-Syafi’i madzhaban al-arabi nisban wa hua tadj al-qudha(t).”  Jadi asal usul Arab di sini jelas disebutkan, namun malangnya, tanggalnya hilang.”.

Manusia Bebas Memilih Hidup Seperti Apa di Dunia, Akan Tetapi

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

‎أَتَانِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مَفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ، ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُهُ بِاللَّيْلِ، وَعِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ

Baca Juga:   Belajar Legowo : Pancasila, Masjid dan Musholla Tidak Bersalah

“Jibril mendatangiku lalu berkata: Wahai Muhammad! Hiduplah sesukamu, karena sesungguhnya kamu akan mati, cintailah siapa yang kamu suka, karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya dan berbuatlah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan karenanya.” Kemudian dia berkata:” Wahai Muhammad! Kemulian seorang mukmin adalah berdirinya dia pada malam hari (untuk shalat malam), dan keperkasaannya adalah ketidakbutuhannya terhadap manusia.”

Baca Juga:   Mendekati Ramadhan, Danrem Baladhika Jaya Sambang Ponpes AL-Mustaqim

(HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Ausath no 4278, Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyaa, al-Hakim dalam al-Mustadrak 7921 Hadits ini dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 2/483)

Ziarah Kubur: Dalil Al Qur’an dan Al-Hadits Nabi Muhammad Rasulullah SAW.

Meskipun tidak dipungkiri masih ada golongan yang kurang mendalami Agama menganggap Ziaroh itu musrik, tapi pada dasarnya Ziaroh sendiri juga didasarkan pada Al-Qur’an, Al-Hadits Nabi Muhammad Rasulullah SAW, Ijma’ dan qiyas dari para ulama’ yang sudah masyhur alim dan alamah.

Al-Qur’an Surah Al-Baqarah Ayat 154:

‎[ ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ : ﺍﻵﻳﺎﺕ ١٥٤ ] ﻭَﻻ ﺗَﻘُﻮﻟُﻮﺍ ﻟِﻤَﻦْ ﻳُﻘْﺘَﻞُ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﻣْﻮﺍﺕٌ ﺑَﻞْ ﺃَﺣْﻴﺎﺀٌ ﻭَﻟﻜِﻦْ ﻻَّ ﺗَﺸْﻌُﺮُﻭﻥَ ‏( ١٥٤ ) “
“Jangan kalian katakan bagi orang yang dibunuh di jalan Allah, (mereka) itu orang-orang mati ! Namun, mereka adalah orang-orang yang hidup, tetapi kalian tidak menyadarinya”.

Surah Al-Nisa ayat 64:
‎ وَ ما أَرْسَلْنا مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ لِیطاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَ لَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جاؤُكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَ اسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّاباً رَحیماً

“Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”

Dalam surah Al-Hajj ayat 32, Allah Swt berfirman:
‎ ذلِكَ وَ مَنْ یعَظِّمْ شَعائِرَ اللَّهِ فَإِنَّها مِنْ تَقْوَی الْقُلُوبِ
“Demikianlah (manasik haji itu). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya tindakan ini adalah sebagian dari tanda ketakwaan hati”.

Nabi Muhammad Rasulullah SAW Juga melakukan Ziarah Kubur

Rasulullah bersabda dalam salah satu haditsnya:
‎كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا
“Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang) berziarahlah kalian,” (HR. Muslim).

Hal ini seperti yang dijelaskan dalam hadits berikut:

‎كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ أَلَا فَزُورُوهَا، فَإِنَّهُ يُرِقُّ الْقَلْبَ، وَتُدْمِعُ الْعَيْنَ، وَتُذَكِّرُ الْآخِرَةَ، وَلَا تَقُولُوا هُجْرً

“Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang) berziarahlah kalian, sesungguhnya ziarah kubur dapat melunakkan hati, menitikkan (air) mata, mengingatkan pada akhirat, dan janganlah kalian berkata buruk (pada saat ziarah),” (HR. Hakim).

Perilaku ziarah kubur juga dilakukan oleh Rasulullah, hal ini beliau lakukan setelah malaikat Jibril menemui Rasulullah seraya berkata:

‎إِنَّ رَبَّكَ يَأْمُرُكَ أَنْ تَأْتِيَ أَهْلَ الْبَقِيْعِ فَتَسْتَغْفِرُ لَهُمْ

“Tuhanmu memerintahkanmu agar mendatangi ahli kubur baqi’ agar engkau memintakan ampunan buat mereka” (HR. Muslim)

Setelah adanya perintah dari Allah untuk menziarahi kuburan Ahli Baqi’, Rasulullah membiasakan menziarahi tempat tersebut pada saat giliran menginap di rumah Aisyah radliyallahu ‘anha. Hal ini seperti tercantum dalam hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidah ‘Aisyah:

‎كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- – كُلَّمَا كَانَ لَيْلَتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- – يَخْرُجُ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ إِلَى الْبَقِيعِ فَيَقُولُ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَأَتَاكُمْ مَا تُوعَدُونَ غَدًا مُؤَجَّلُونَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاَحِقُونَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لأَهْلِ بَقِيعِ الْغَرْقَدِ

“Rasulullah setiap kali giliran menginap di rumah ‘Aisyah, beliau keluar rumah pada akhir malam menuju ke makam Baqi’ seraya mengucapkan salam: ‘Salam sejahtera atas kalian wahai penghuni kubur dari kalangan kaum mukmin. Segera datang apa yang dijanjikan pada kalian besok. Sungguh, kami Insya Allah akan menyusul kalian. Ya Allah ampunilah penghuni kubur Baqi’ Gharqad,” (HR. Muslim).

Hujjatul Islam Imam Al-Ghozali bernama lengkap Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Abu Hamid at-Thusi as-Syafii mengungkapkan:
‎زيارة القبور مستحبة على الجملة للتذكر والاعتبار وزيارة قبور الصالحين مستحبة لأجل التبرك مع الاعتبار

“Ziarah kubur disunnahkan secara umum dengan tujuan untuk mengingat (kematian) dan mengambil pelajaran, dan menziarahi kuburan orang-orang shalih disunnahkan dengan tujuan untuk tabarruk (mendapatkan barakah) serta pelajaran,” (Al-Ghazali, Ihya’ Ulum ad-Dien, juz 4, hal. 521).

Editor: Ilma dikutip dari berbagai sumber

Related Articles

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terbaru

Adblock Detected!

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by whitelisting our website.