Jumat, Juni 14, 2024
Beranda Sample Page

Sample Page Title

Kontras TIMES.COM | Artikel- Ajaran Islam mencakup seluruh aspek kehidupan manusia sebagaimana firman Allah SWT yang artinya: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam sebagai agama bagimu. (QS. Al-Maidah 5 : 3) (Hera, 2019).

Oleh karenanya Islam adalah sebuah aturan, norma, pola hidup yang melingkupi kehidupan manusia dan menjadi pedoman dalam mengarungi kehidupannya yang selanjutnya pedoman itu dijabarkan dalam fiqih Islam.

Sedang fiqih itu sendiri adalah suatu pola hidup yang ditawarkan Islam dalam bentuk pemahaman secara mendalam terhadap hukum dan ketentuan Allah untuk diaplikasikan dalam kehidupan manusia.

Adapun bertransaksi dalam disiplin ilmu fiqh merupakan bagian pembahasan mu’amalah. Sedangkan perdagangan adalah bagian dari kegiatan kewirausahaan. Bila kita berbicara tentang kewirausahaan menurut pandangan Islam, maka rambu-rambu yang harus diperhatikan dalam kegiatan ini adalah teori-teori yang telah di gambarkan dalam AlQuran dan As-Sunnah sebagai norma dan etika dalam berwirausaha khususnya dalam perdagangan.

Islam juga mengajarkan bagaimana manusia itu giat dalam menjalani aktifitas dan semangat bekerja keras untuk mencari nafkah dan menjawab kebutuhan sehari-hari. Allah SWT, menyeru manusia untuk bertebaran di muka bumi untuk menuntut karunia Allah, dalam hal ini maksudnya adalah rezki Allah. Bahkan Rasulullah pun sangat menganjurkan kepada ummatnya untuk giat dalam bekerja. Tidak sedikit hadits Rasulullah yang menegaskan tentang hal itu.

Dalam ibadah kaidah hukum yang berlaku adalah bahwa semua hal dilarang, kecuali yang ada ketentuannya berdasarkan alQur’an dan al-Hadis.

Sedangkan dalam urusan mu‘amalah, semuanya diperbolehkan kecuali ada dalil yang melarangnya. Ini berarti ketika suatu transaksi baru munncul dan belum dikenal sebelumnya dalam hukum Islam, maka transaksi tersebut dapat diterima, kecuali terdapat implikasi dari dalil al-Qur’an dan alHadis yang melarangnya. Dengan demikian, dalam bidang mu‘amalah, semua transaksi dibolehkan kecuali yang diharamkan.

Perbankan Syariah merupakan suatu sistem perbankan yang dikembangkan berdasarkan syariah atau hukum Islam. Usaha pembentukan sistem ini didasari oleh larangan dalam agama Islam untuk memungut maupun meminjam dengan bunga atau yang disebut dengan riba serta larangan investasi untuk usaha-usaha yang dikategorikan haram.

Dewasa ini riba telah menjadi teman bahkan sahabat yang sulit dipisahkan bagi kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang riba, hukumhukum yang mendasari riba, sebab-sebab pengharamanya riba, hal-hal yang menyebabkan riba serta dampak yang diakibatkan oleh riba.

Berdasarkan Undang-Undang No 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syari’ah, bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan / atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat. Sejalan dengan pengertian tersebut, menurut Muhammad dalam Ismanto (2015) bank adalah lembaga perantara keuangan atau biasa disebut financial intermediary.

Baca Juga:   Anda Suka Kucing? Cara ini Membuat Kucing Anda Berhenti Berburu
Baca Juga:   Daftar Kartu Prakerja Tahun 2021, ini caranya. ..

Artinya lembaga bank adalah lembaga yang dalam aktivitasnya berkaitan dengan masalah uang. Oleh karena itu, usaha bank akan selalu dikaitkan dengan masalah uang yang merupakan alat pelancar terjadinya perdagangan yang uatama. Kegiatan dan usaha bank akan selalu terkait dengan komoditas, antara lain: memindahkan uang; menerima dan membayarkan kembali uang dalam rekening koran mendiskonto surat wesel, surat order maupun surat berharga lainnya; menjual dan membeli surat-surat berharga; membeli jaminan bank.

Kemudian yang dimaksuddengan Bank Syari’ah adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya disesuaikan dengan prinsipprinsip Syari’at Islam (Suhendi, 2013). Antonio dan Perwataatmaja (1999: 1-2) membedakan menjadi dua pengertian, yaitu bank Islam dan bank yang beroperasi dengan prinsip syari’at Islam.

Bank Syari’ah adalah bank yang beroperasi berdasar prinsip-prinsip Syari’at Islam, yaitu bank yang tata cara beroperasinya mengacu kepada ketentuanketentuan Al Qur’an dan Hadis.

Sementara bank yang beroperasi sesuai prinsip Syari’ah Islam adalah bank yang dalam beroperasinya itu mengikuti ketentuanketentuan Syari’at Islam, khususnya yang menyangkut tata cara bermu’amalat secara Islam.

Pemahaman Transaksi Syariah dalam Menghindari Riba, Mengingat dampak dari riba yang sangat mengerikan, sosialisasi mengenai bahaya riba dan cara menghindarinya lebih khusus dalam riba bunga bank yang sehari-hari tidak bisa terlepas dari transaksi perbankan melalui pengabdian masyarakat sosialisasi ini akan memberikan dampak yang nyata dalam keidupan sehari-hari. Permasalahan tentang riba akan berkurang dan masyarakat dapat menghindari riba dengan melakukan transaki perbankan melalui perbankan syariah yang menurut fatwa

Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia transaksi-transaksi dalam perbankan syariah terhindar dari riba.
Bunga bank termasuk riba, sehingga bunga bank juga diharamkan dalam ajaran Islam. Riba bisa saja terjadi pada pinjaman yang bersifat konsumtif, maupun pinjaman yang bersifat produktif. Dan pada hakikatnya riba dalam bunga bank memberatkan peminjam. Menurut Majelis Tarjih Muhammadiyahhukum tentang bunga bank dan riba dijelaskan bahwa Riba hukumnya haram dengan nash sharih Al-Qur’an dan AsSunnah. Bank dengan sistem riba hukumnya haram dan bank tanpa riba hukumnya halal. Bunga yang diberikan oleh bank-bank milik negara kepada para nasabahnya atau sebaliknya yang selama ini berlaku, termasuk perkara musytabihat (masih samar-samar, belum jelas hukumnya sehingga butuh kajian lebih lanjut).

Baca Juga:   Menakar, Apakah Profesi seorang Wartawan Bisa Sejahtera ? Jati Diri Menjadi Fungsi Pilar ke Empat menyampaikan ke PUBLIK

Bank Islam juga menggunakan modal yang terkumpul untuk investasi langsung dalam berbagai bidang usaha yang menguntungkan. Sistem investasi ini biasanya menggunakan imbal balik dalam bentuk bagi hasil sebagai pengganti praktek bunga bank yang selama ini terjadi. Maraknya praktek riba juga menunjukkan semakin tingginya gaya hidup konsumtif dan kapitalis di kalangan kaum muslimin, mengingat tidak sedikit kaum muslimin yang terjerat dengan hutang ribawi disebabkan menuruti hawa nafsu mereka untuk mendapatkan kebutuhan yang tidak mendesak. Disadari atau tidak, praktik riba banyak terdapat dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya yang terkait dengan bunga bank. Bunga bank adalah keuntungan yang diambil oleh bank dan biasanya di tetapkan dalam bentuk persentase seperti 5% atau 10% dalam jangka waktu bulanan atau tahunan terhitung dari jumlah pinjaman yang diambil nasabah (Khotibul, 2017).

Baca Juga:   Ajaran Tarekat Naqsabandiyah Sebagai Daya Tarik Perkembangannya di Bumi Nusantara

Pelaku riba biasanya jarang melakukan berbagai kebajikan, karena dirinya tidak memberikan pinjaman dengan cara yang baik, tidak memperhatikan orang yang kesulitan, tidak pula meringankan kesulitannya bahkan dirinya mempersulit dengan pemberian pinjaman yang disertai tambahan bunga. Padahal Allah telah menerangkan keutamaan seorang yang meringankan kesulitan seorang mukmin, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa meringankan satu kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitannya di dunia , maka Allah akan meringankan kesulitan dari berbagai kesulitan yang akan dihadapinya pada hari kiamat kelak.

Barangsiapa yang memeri keringanan bagi orang yang kesulitan, maka Allah akan memberi keringanan baginya di dunia dan akhirat. Barangsiapa menyembunyikan aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat.” (HR. Muslim nomor 2699) (Mardani, 2012).

Perkembangan ekonomi yang semakin meningkat dalam menyongsong industri 4.0 mengharuskan banyak pihak untuk bergerak lebih cepat dalam melakukan inovasi. Salah satu dari perkembangan tersebut yaitu semakin banyaknya jenis-jenis transaksi di masyarakat yang lebih mudah dan modern, namun tidak sedikit pula yang masih menggunakan transaksi-transaksi dengan cara lama seperti membeli buah pada saat buah di pohon dan transaksi-transaksi sejenisnya. Dari berbagai jenis macam transaksi terdapat transaksi yang tidak dibolehkan dalam Agama Islam salah satunya yaitu riba.

Penulis: Nicolas Ricky Widjaja
Prodi akuntansi
Universitas Muhammadiyah Malang

Related Articles

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terbaru

Adblock Detected!

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by whitelisting our website.