Minggu, Maret 3, 2024
Beranda Sample Page

Sample Page Title

KONTRASTIMES.COM- BANYUWANGI | Meskipun masih dalam masa pandemi, masyarakat nelayan di Pelabuhan Muncar, tetap menggelar ritual petik laut, pada Selasa (24/8/2021) meskipun Berbeda dengan tahun sebelumnya, kali ini acara ritual petik laut gelar secara sederhana dan terbatas. Acara tersebut diadakan setiap setahun sekali tepatnya pada 15 Syuro kalender Jawa atau 15 Muharram penanggalan Islam.

Wakil Ketua Panitia Petik Laut Muncar, Sihat Aftarjo menyebut sebelum menggelar acara petik laut, masyarakat nelayan di Pelabuhan Ikan Muncar menggelar tirakatan dan pengajian di sejumlah tempat ibadah.

Pada puncak acara para nelayan mengarak sesaji dari rumah tokoh masyarakat menuju Pelabuhan Ikan Muncar. “Intinya masyarakat berdoa bersama sebelum acara dimulai,” ujarnya.

Sesaji yang diarak diletakkan di gitik atau perahu kecil yang memiliki panjang dua meter. Di dalamnya berisi berbagai macam sesajen berupa jajan pasar, buah-buahan, dua ekor ayam yang masih hidup serta kepala kambing dengan pancing yang terbuat dari emas seberat 2 gram yang dikaitkan di lidah kepala kambing itu.


“Untuk kali ini, gitik dibuat lebih kecil karena menyesuaikan anggaran yang ada. Jika petik laut digelar secara besar-besaran ukuran gitik bisa mencapai lima mater,” katanya.

Setelah diarak keliling kampung, gitik dipindahkan ke perahu jenis selerek. Lalu dibawa ke tengah lautan lepas diiringi dengan puluhan kapal selerek, gardan dan jukung milik nelayan. Perahu tersebut dihiasi dengan ornamen-ornamen indah serta dilengkapi dengan sound system untuk memutar musik. “Dalam acara petik laut itu, panitia juga membawa serta dua penari gandrung,” terangnya.

Setelah sampai di selatan Tanjung Sembulungan atau 15 kilometer dari Pelabuhan Ikan Muncar, gitik tersebut dijatuhkan ke laut. Gitik yang sudah diberi pemberat itu langsung tenggelam ke dasar laut bersama sesaji yang ada di dalamnya. Usai sesaji dilarung, puluhan nelayan juga ikut terjun ke laut untuk berebut mengambil makanan yang terapung. “Hanya makanan dan buah saja yang boleh diambil. Selebihnya wajib dilarung,” cetusnya.

Baca Juga:   Peringati HUT RI ke-76,TNI Bersinergi Dengan POLRI dan Tokoh Masyarakat Napak Tilas di Puncak Tertinggi Distrik Kanggime

Selanjutnya, para nelayan pun mengambil air laut di sekitar tempat pelarungan dengan menggunakan ember. Air laut itu kemudian disiramkan secara mereta di seluruh bagian kapal. Hal itu dipercaya sebagai pembersih perahu dari tolak balak.

Baca Juga:   Kadis PU-PR Pulau Morotai Masih PNS Pemkab Halbar

Tak lupa, para nelayan memanjatkan do’a atas melimpahnya tangkapan ikan, serta berharap seluruh nelayan di Pelabuhan Ikan Muncar terhindar dari bahaya saat melaut. “Kami juga berdoa agar Covid-19 dapat segera berakhir dan tahun mendatang acara petik laut dapat digelar secara besar-besaran,” pungkasnya.

Din

Related Articles

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terbaru

Adblock Detected!

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by whitelisting our website.