Senin, April 8, 2024
Beranda Sample Page

Sample Page Title

Kontras TIMES.COM | Jatim- Peradaban Wong Jawi terus berkembang seiring waktu, baik dari segi budaya, ilmu pengetahuan, tekhnologi dan Agama yang saat ini telah berkembang pesat ditanah Jawa Dwipa.

Meskipun tidak dipungkiri masih ada wilayah -wilayah yang bisa jadi masih tertinggal, dari segi pembangunan, ekonomi dan pendidikan, akan tetapi itu tidak mengurangi adanya keyakinan masyarakat, bahwa Jawa Dwipa merupakan pulau yang “Gemah Ripah Loh Jinawi”.

Salah satunya adalah Kabupaten Banyuwangi sebagai wilayah ujung paling timur Jawa Dwipa, mustahil tidak memiliki historis peradaban yang kuat, dan jauh tertinggal dari Provinsi Banten yang terletak diujung paling Barat Jawa Dwipa.

Karena itu, Kasepuhan Luhur Kedaton mencoba melakukan rekonstruksi kisah peradaban Jawa Dwipa diujung paling timur yaitu Parwa Dwipa.

“Rekonstruksi peradaban, menjadi penting, untuk kita mengetahui mengapa setelah berabad-abad lamanya keberadaan Jawa Dwipa, masih bisa kita nikmati, meskipun ratusan bahkan ribuan kerajaan diatasnya telah sirna, ribuan dinasti juga telah berganti, sementara kita tahu pasti keterbatasan umur manusia,”, papar Kasepuhan Luhur Kedaton.(24/12/’22).

Lebih Lanjut Kasepuhan Luhur Kedaton memaparkan, rekonstruksi peradaban tidak harus dengan menunjukkan bukti-bukti arkeologis, namun juga bisa dibangun dari beragam keyakinan dari ajaran yang berkembang pada saat itu.

“Seperti keyakinan leluhur Wong Jawi,  yang meyakini hubungan manusia dan dewa-dewa sangatlah dekat,” ucapnya.

Untuk mengekang sifat angkara murka, Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara (Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak), leluhur Wong Jawi meyakini adanya Karma.

Istilah karma berasal dari bahasa Sansekerta berarti perbuatan dan hasil yang akan didapat dari perbuatan tersebut dinamakan karmaphala, sementara akibat yang ditimbulkan dari perbuatan disebut dengan karma vipaka, ajaran Karma juga terdapat di Agama Hindu dan Budha.

Sementara itu dalam agama Islam disebutkan, pada surat Al-Zalzalah ayat 7 dan 8.   

وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ # وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ

“Maka barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah niscaya dia akan melihatnya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah sekalipun, niscaya dia akan melihatnya pula“.

Kasepuhan Luhur Kedaton mengungkapkan, terlepas adanya beberapa cerita yang berbeda, sebelum lahirnya era Aji Saka, pulau Jawa Dwipa merupakan pulau yang didalamnya terdapat kerajaan Dewa Jawa Dwipa, tempatnya secara umum diceritakan terdapat di gunung Gede, Merak Kabupaten Cianjur dan Sukabumi, sebagai titik pertengahan Pulau Jawa Dwipa, saat ini masuk Kawasan Taman Nasional Gede Pangrango.

Dalam Serat Momana, dikisahkan bahwa pada tahun 862 Masehi, Aji Saka mengembara ke Ujung Kulon dengan menggunakan nama Btara Adimurti, dan pada 1003 ia naik tahta di Medhang Kamulan dengan gelar Prabu Grimurti, menggantikan kekuasa Prabu Dewata Cengkar dari bangsa Denawa (Raksasa).

“Perjalanan Aji Saka disebut ke-Ujung Barat, artinya ada benang merah dimana para leluhur Wong Jawi untuk sempurnanya perjalanan mesti dimulai dari ujung timur dan menempat mendirikan kerajaan selalu di tengah -tengah pulau Jawa,”. ucapnya.

Mengutip Serat Pustakaraja Purwa versi Ronggowarsito maupun versi daerah Ngasinan, Aji Saka juga dikenal dengan Batara Aji Saka, Jaka Sengkala, Empu Sengkala, dan Prabu Wisaka. Ia merupakan anak dari Batara Anggajali dan cucu dari Batara Ramayadi.

Pendapat lain, R S Hadisoetrisno pada bukunya Serat Sastra Hendra Prawata menyebut pencipta aksara Jawa adalah Prabu Nurcahya yang merupakan putra Sang Hyang Sita atau Nabi Sis, selain membuat aksara Jawa, Prabu Nur Cahya juga menciptakan aksara Latin, Arab, China, dan lainnya. Seluruh aksara ini disebut Sastra Hendra Prawita.

Jawa Dwipa Sudah Terisi Kerajaan -Kerajaan Sebelum Aji Saka Datang

Meskipun Aji Saka dikatakan sebagai pembawa peradaban di Jawa, kisah Aji saka (78 masehi) mendapatkan beberapa sanggahan dan bantahan dari sumber-sumber sejarah lainnya. Ramayana karya Valmiki , yang dibuat sekitar 500 SM, mencatat Jawa sudah memiliki organisasi pemerintahan kerajaan jauh sebelum kisah itu:

“YAWADWIPA DIHIASI TUJUH KERAJAAN, PULAU EMAS DAN PERAK, KAYA AKAN TAMBANG EMAS, DAN DISITU TERDAPAT GUNUNG CICIRA (DINGIN) YANG MENYENTUH LANGIT DENGAN PUNCAKNYA.”

Menurut catatan China, kerajaan Jawa didirikan pada 65 SM, atau 143 tahun sebelum kisah Aji Saka dimulai.

Parwa Dwipa (Pulau Pertama)

Kasepuhan Luhur Kedaton mengungkapkan, keberadaan pulau Jawa secara keseluruhan disebut Jawa Dwipa, dan diujung paling timur pulau Jawa, dahulu kala bernama Parwa Dwipa (Pulau Pertama).

Parwa berarti Pertama dan Dwīpa berarti pulau, saat ini kita kenal dengan nama Alas Purwo masuk Wilayah Kabupaten Banyuwangi Selatan, sebagai titik awal dimulainya peradaban Jawa Dwipa, karena itu orang hanya menyebut Purwo/Parwa atau menghunak bahasa Campuran Alas Purwo, yang semestinya kalau disitu tidak pernah ada kehidupan manusia , semestinya dari awal disebutnya Wana Purwa (Hutan Pertama), Wana berarti hutan; rimba raya dan Purwa berarti Pertama.

Parwa Dwipa merupakan tempat Aji Saka muksa, dan tempat bersemayamnya leluhur Bangsa Jawi dari Golongan Dewa, Jin dan Manusia, kisah sama kita dengar Parwa Dwipa menjadi tempat Pahlawan Nasional Supriadi menghilang dan harta Karun Soekarno atau tepatnya Dana Revolusi merebut kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga:   Motivasi dan Support Babinsa Menjadi Angin Segar Para Nelayan Desa Ngemboh

“Bahkan Bung Karno Proklamator Bangsa Indonesia dan penulis buku dibawah bendera revolusi, juga tabaruk, hikmat masuk Alas Purwo, kakek Prabu Jayabaya, Prabu Airlangga sebelum mendirikan kerajaan Kahuripan juga berapa di Alas Purwo”, ucapnya.

Baca Juga:   Jadikan Pondok Natal Terlihat Indah, Satgas Pamrahwan Yonif RK 751/VJS Beri Bantuan Lampu Natal

Didalam Alas Purwo juga terdapat Situs Kawitan peninggalan Abad 13, saat Kerajaan Majapahit dipimpin Raden Wijaya bergelar Sri Maharaja Kertarajasa Jayawardhana, sang raja melakukan perjalan ke Timur Jawa Dwipa hingga sampai Purwa Dwipa (saat ini Alas Purwo), legenda Situs Kawitan juga berkaitan dengan masa awal Mahapatih Amangkubumi Gajah Mada menyatukan Nusantara dibawah panji-panji kebesaran Majapahit – Raja Majapahit saat itu Sri Tribhuwana Wijayatunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani di lanjutkan Masa Hayam Wuruk bergelar Maharaja Sri Rājasanagara.

KAWITAN SITE
Berdasarkan penelitian para ahli, dipercaya bahwa di sudut tenggara Pulau Jawa atau yang sekarang dikenal Plengkung pernah dijadikan pendaratan pertama masyarakat Austronesia pada tahun 3500 SM.

“Terlapas keberadaan Purwa Dwipa telah menjadi sebuah keyakinan Leluhur Wong Jawi atau sebuah penghormatan dari Penerus generasi muda Wong Jawi, pelestarian dan melindungi Parwa Dwipa (Alas Purwo) merupakan bentuk upaya kita menghargai, sekaligus Nguri-uri totokromoni Wong Jawi”.tegas Kasepuhan Luhur Kedaton.

Menelusuri Kata Parwa, juga terdapat dalam kitab Mahabarata , seperti Kitab Wanaparwa (pengembaraan di hutan), Wana diartikan hutan, kitab ini menceritakan tentang kisah pengalaman para Pandawa bersama Drupadi di tengah hutan.

Seperti terdapat pula penamaan wayang Parwa pada masa Maharaja Prabu Airlangga Wisnumurti, pendiri kerajaan Kahuripan,1019-1042.

Untuk kitab Mahabarata versi Jawa di tulis Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, dibuat pada 1079 Saka / 6 November 1157 Masehi, pada masa Raja Jayabaya (1135-1159 M), sementara untuk versi India ditulis pada masa pemerintahan Maharaja Sharvanatha (533–534 M).

Ditimur Purwa Dwipa terdapat Bali Dwipa atau disebut Walidwipa dalam Prasasti Blanjong yang dikeluarkan Sri Kesari Warmadewa pada 913 M.

Yawadwipa (Jawa Dwipa) disebut dalam Wiracarita asal India, Ramayana. Sugriwa, panglima wanara (manusia kera) dari pasukan Sri Rama, mengirimkan utusannya ke Yavadvip (“Pulau Jawa”) untuk mencari Dewi Shinta.[8] Kemudian berdasarkan kesusastraan India terutama pustaka Tamil, disebut nama Sanskerta yāwaka dwīpa.

Claudius Ptolemaeus (160 M) menulis tentang Jawa dalam bukunya, Geographie Hypogenesis. Dia menyebut nama Argyre Chora (artinya: Negara Perak) di Labadio. Menurut ahli sejarah, Labadio berarti Dwipa-Javaka, Dwipa-Javaka atau Java Dwipa, yang merupakan nama kuno Pulau Jawa.

“Karena itulah,  Parwa Dwipa disakralkan, dari didalam Parwa Dwipa kita juga bisa melihat benah merah keterkaitan kehidupan leluhur Wong Jawi, dengan kepercayaan leluhur yang menyakini adanya Istana Dewa di beberapa Gunung seperti Mahameru dan Pantai Laut Selatan,” paparnya.

Adanya Tambang Emas Gunung Tumpang Pitu mengingatkan kita, terhadap riwayat yang menyebutkan, Jawa Dwipa berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti “Pulau Padi” dan disebut dalam epik Hindu Ramayana.

Epik itu mengatakan “Jawadwipa, dihiasi tujuh kerajaan, Pulau Emas dan perak, kaya dengan tambang emas”, sebagai salah satu bagian paling jauh di bumi.

“Pada masa babad Jawa Dwipa hingga saat ini Parwa Dwipa (Alas Purwo) masih disakralkan, bahkan raja-raja Jawa Kuno meyakini didalam Parwa Dwipa (Alas Purwo) menjadi tempat arwah leluhur Wong Jawi, karena itu bisa kita pastikan hampir semua raja-raja Jawa pernah ke Parwa Dwipa (Alas Purwo), termasuk saat era Walisongo dikisahkan para Waliyullah tersebut juga kerapkali melakukan pertemuan di Parwa Dwipa (Alas Purwo),” tandasnya.

“Seperti halnya setiap agama memiliki kota/wilayah yang disakralkan, begitupun setiap wilayah suku dan bangsa, yang perlu kita lakukan hanyalah dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung,”. pungkasnya.

Mpu Prapanca dalam Kakawin Nagarakretagama, menyebut negeri ini sebagai Balumbun, Wilayah Makmur.

Pira teki lawas nira patukanan.. Para mantri ri Bali ri Madura ri Balumbun andalan ika karuhun… sayawaksiti wetanumark apuphul… [2]

Selama beliau (Prabu Hayamwuruk) hadir di Patukangan… para menteri dari Bali dari Madura dari Balumbun merupakan andalan Baginda… Dimana seluruh daerah timur berkumpul)

Blambangan Negeri Para Pemberani Dalam pupuh 28, bait 1, Balumbun juga disebutkan sebagai andalan Baginda, setara dengan Bali dan Madura.

Cortesao, seperti yang dikutip oleh Herusantosa (1987:13), dengan merujuk pada peernyataan pedagang Portugis  Tome Pires, menyebut “rakyat Blambangan sebagai rakyat yang mempunyai sifat “warlike”, suka berperang dan selalu siap tempur, selalu ingin dan berusaha membebaskan wilayahnya dari kekuasaan pihak lain”.

Munculnya Majapahit Istana Timur dan Kerajaan Balumbun atau Marlambangan

Blambangan Era 1

Bagian timur Jawa Dwipa, mulai muncul kerajaan yang paling mashur ditandai dengan berdiri Kerajaan Majapahit Istana Timur raja pertama nya Arya Wiraraja, yang berpusat di Lumajang, pada tahun 1295, kala itu dikenal sebagai Marlambangan atau Tigang Juru. 

Istilah Tigang Juru diartikan sebagai cakupan wilayah kekuasaan, meliputi Daerah Lumajang, Tigang  Juru (wilayah Madura, Panarukan, Blambangan-Banyuwangi).

Saat ini wilayah tersebut lebih terkenal dengan sebutan tapal kuda meliputi, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, Kota Probolinggo, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Jember, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Kabupaten Banyuwangi.

Baca Juga:   Alasan Jubair T Latif Ditunjuk Bupati James Jadi PLH Sekda Halmahera Barat

Blambangan Era 1, diwarnai berbagai teragedi yang menyebabkan Dua Putra Arya Wiraraja bentempur dengan Pusat Kerajaan Majapahit.

Dua Putra Arya Wiraraja tersebut adalah, Ranggalawe Adipati Tuban (1295) dan Nambi yang saat itu bahkan masih menjabat Rakryan Patih.(1316)

Blambangan Era 1, berlanjut Perang Regreg dengan Pemberontakan Bahre Wirabumi/Kebo Marcuet Raja Majapahit Istana Timur, yang kemudian berhasil dikalahkan pada 1406, ketika pasukan Majapahit Istana barat dipimpin Bhre Tumapel putra Wikramawardhana menyerbu langsung pusat kerajaan timur.

Baca Juga:   Motivasi dan Support Babinsa Menjadi Angin Segar Para Nelayan Desa Ngemboh

Ketika Bhre Wirabhumi hendak melarikan diri menggunakan perahu pada malam hari, ia dikhianati dan dipenggal kepalanya oleh patihnya sendiri Raden Gajah alias Bhra Narapati alias Minak Jinggo alias Jaka Umbaran.(1406).

Disebutkan di sini bahwa:
“Kalah kedaton wetan. Bhre Daha ingemban denira bhra Hyang Wisesa bhinakta mangilen. Bhra Wirabhumi lungha ring wengi, tumulumpak ing parahu, tinut denira raden Gajah bhiseka ratu angabhaya, bhra Narapati. Katututan ing parahu, minoktan tur pinok bhinakta dateng ing Majapahit, dhinarma ta sira ring Lung, dharmmabhiseka ring Gorisapura i saka duk paregreg agung naga-laranahut-wulan 1328. (Pararaton: 31, 10-15).

Blambangan Era 1, Kekuasaan Blambangan beralih ke Raden Gajah alias Bhra Narapati alias Minak Jinggo alias Jaka Umbaran.

Bhra Narapati selanjutnya melakukan pemberontakan dan melepaskan diri dari wilayah Kerajaan Majapahit, dengan alasan janji menikahi Ratu Kencono Wungu ditolak

Dyah Suhita yang tidak tahu menahu sayembara yang dibuat Ramandanya Prabu Wikramawardhana, ia menjadi tersinggung dan menolak mentah-mentah, permintaan Bhra Narapati alias Minak Jinggo, dalam riwayat lain disebutkan, penolakan tersebut didasarkan, bahwa ternyata Bahre Wirabumi adalah Kakek dari Dyah Suhita, sehingga iapun hendak membalas dendam untuk membunuh Bhra Narapati alias Minak Jinggo.

Pembalasan Dyah Suhita, baru terlaksana pada 1433 bersamaan terjadi pemberontakan Bhra Narapati alias Minak Jinggo yang mendeklarasikan kerajaan Marlambangan keluar dari Kekuasaan Majapahit.( (Perlawanan Bhra Narapati alias Minak Jinggo alias Jaka Umbaran diabadikan di cerita Minak Jinggo Vs Damarwulan).

Blambangan Era 1, Kekalahan Bhre Narapati kekuasaan Blambangan beralih ke Menak Dadaliputih/Bhre Pakembangan / Raja Menak Sembuyu, yang merupakan ayah dari Dewi Sekardadu juga dikenal sebagai Raden Ayu Liyung Manoro, Raden Ayu Sumbat Nyowo, sekitar abad ke-14 jika mengacu kelahiran Sunan Giri lahir di Blambangan tahun 1442 .

Dewi Sekardadu menikah dengan Syekh Maulana Ishaq ( angkatan 1 Wali Songo), pernikahan Kedua lahir Kanjeng Sunan Giri.

Kesalahan fatal: dari Raja Menak Sembuyu melakukan konspirasi dengan Patih Bajulsengara membuang Cucunya sendiri (Bayi Sunan Giri) ke- laut selat Bali.

Raja Menak Sembuyu, juga mengingkari janjinya untuk Masuk Islam kepada menantunya sendiri Syekh Maulana Ishaq (Prabu Anom)

Dikisahkan, Raja Menak Sembuyu/Menak Dadaliputih kembali tewas setelah mencuri pusaka Majapahit Keris Kyai Semelagandring, setelah itu Kerajaan Majapahit memutuskan menggempur Kerajaan Blambangan.

Rangkaian pemberontakan dari kerajaan Majapahit Istana Timur/Blambangan 1, akhirnya Kerajaan Blambangan dibiar tanpa raja.

Berlambang Menjadi Tempat Bersembunyian Keturunan Terakhir Raja Majapahit Dyah Ranawijaya

Dyah Ranawijaya atau disebut Girindrawardhana Dyah Ranawijaya adalah maharaja terakhir Majapahit yang memerintah tahun 1474—1498, dengan ibu kota di Daha.

Namanya dikenal melalui Prasasti Jiyu I, Prasasti Petak, Serat Pararaton dan Suma Oriental.

Babad Sĕngkala mencatat, saat Dĕmak dipimpin Sultan Trenggana (Pati Rodim) putra Raden Patah berhasil mengalahkan Tuban dan Daha (sekarang Kediri) 1527.

Sisa-sisa keluarga Majapahit keturunan Girindrawardhana kemudian melarikan diri ke wilayah Blambangan (sekarang daerah Kabupaten Banyuwangi).

Blambangan Era 2

Era Kerajaan Blambangan 2

Runtuhnya kerajaan Majapahit, membuat Kerajaan Blambangan kembali muncul pada 1489 dengan Raja pertama Bima Koncar, terus berlanjut ke Tawangalun 1 pada 1597 ke Tawangalun 2 Kerajaan Blambangan dipindahkan ke wilayah hutan bernama Sudimara dan selanjutnya disebut Istana Macanputih, wilayah Kabat Kabupaten Banyuwangi.(1655-1691)

Hari Jadi Banyuwangi

Keturunan Raja Blambangan diteruskan hingga Wong Agung Wilis pada 1763, dan pada 18 Mei 1768 terjadi pertempuran pertama melawan VOC.

Perang melawan VOC terjadi untuk kedua kalinya, dipimpin Pangeran Jagapati, perang kedua ini dikenal sebagai Perang Puputan Bayu pada tahun 1771-1773), sekaligus menandai lahirnya Banyuwangi.

Sejarah awal nama Kabupaten Banyuwangi disebut merujuk dua kisah, pertama, Kisah Legenda Putri Sri Tanjung dan kedua baru-baru ini mulai dimunculkan kisah yang terjadi pada tahun 1766, saat itu disebut ada bandar kecil bernama Tirtaganda, Tirtaarum atau Toyaarum dalam Babab Tawangalun, dan Penetapan hari lahir Banyuwangi merujuk Peristiwa terjadinya Perang Puputan Bayu Pertama, pada tanggal 18 Desember 1771

“Menurut penulis, penamaan sebuah wilayah tidak harus dipaksakan ada korelasinya sejarah atau legenda, akan tetapi dari Nama Banyuwangi, kita bisa menangkap pesan harapan dari para leluhur Banyuwangi, untuk merubah sisi kesan negatif dari Riwayat Kerajaan Blambangan, dengan harapan supaya Masyarakat Banyuwangi, tokoh dan pejabat bisa seumpama air yang berbau harum dan salah satu sifat dari air untuk tetap jernih harus mengalir, saat diam air akan menjadi keruh,”

Desi Dwan

Related Articles

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terbaru

Adblock Detected!

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by whitelisting our website.