Jumat, Mei 27, 2022

Pelecehan Seksual di Lingkungan Kampus

KONTRASTIMES.COM- OPINI | Pelecehan seksual adalah perilaku pendekatan-pendekatan yang terkait dengan seks yang tak diinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara verbal ataupun fisik merujuk pada seks.

Tindak pelecehan dan kekerasan seksual tidak hanya terjadi di zona-zona rawan, tetapi juga sering terjadi di lembaga pendidikan, yang seharusnya sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadaban. Bahkan belakangan ini marak kasus pelecehan seksual di institusi pendidikan tinggi.

Salah satu kasus dugaan terjadinya pelecehan seksual terbaru yang kini menjadi pemberitaan media massa terjadi di Universitas Riau (Unri). Seorang mahasiswi angkatan 2018 diduga mengalami pelecehan seksual oleh dosennya yang juga seorang dekan.

Dalam rangka menangani maraknya kasus pelecehan seksual di lembaga pendidikan tinggi, telah dikeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 30 Tahun 2021, tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi.

Pelecehan seksual di perguruan tinggi biasanya terjadi ketika mahasiswa tengah konsultasi, sedang menempuh ujian, dan lain sebagainya, sering dimanfaatkan para dosen yang nakal untuk melancarkan aksi jahat dan nafsunya yang tidak terkendali. Mahasiswa yang lemah, biasanya tidak mampu mengelak dan potensial menjadi korban ulah dosennya yang melewati batas.

Untuk mencegah agar tidak terjadi lagi tindak pelecehan seksual di lingkungan kampus, langkah pertama yang dibutuhkan ialah kejujuran dan kebesaran hati dari pihak kampus untuk mengakui bahwa ada yang salah dan berpotensi disalahgunakan oleh dosen untuk melampiaskan hasrat seksualnya yang kelewat batas.

Penulis: Honey Savira Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang.

Related Articles

- Advertisement -

Berita Terbaru

Adblock Detected!

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by whitelisting our website.