Senin, November 29, 2021

Potret Toleransi Dan Kerukunan Antar Umat Beragama di Ngoro Jombang

KONTRASTIMES,COM-JOMBANG | Dikelilingi tetangga yang berbeda keyakinan, tidak membuat Setiyani merasa terasingkan.

Sejak masa anak-anak hingga memasuki remaja, gadis berusia 17 tahun itu merasa nyaman menjalani kehidupannya di tengah keragaman agama yang dianut tetangganya.

Setiyani adalah pemeluk agama Hindu. Bersama keluarganya, siswa SMA Negeri Ngoro itu tinggal Dusun Ngepeh, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Kampung tempat tinggalnya dihuni masyarakat yang memeluk agama Islam, Hindu dan Kristen. Mayoritas memeluk Islam, sebagian lagi pemeluk Hindu dan Kristen.

Tetangga kanan dan kirinya mayoritas memeluk Islam. Bahkan, 20 meter dari rumahnya terdapat mushala yang menjadi tempat ibadah umat Islam.

Meski demikian, Setiyani merasakan tak ada tetangga yang mengungkit masalah keyakinan yang diikutinya. Tidak ada pula yang menjauhinya karena berbeda agama.

“Hidup di sini enak, di sini toleransinya bagus, warganya juga rukun-rukun,” kata Setiyani, Minggu (21/11/2021).

Pintu masuk Dusun Ngepeh, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Baca Juga:   Tanpa Pawai Ogoh-ogoh, Umat Hindu Banyuwangi Lakukan Segala Upacara Yepi Saka 1943

Dia menuturkan, sikap toleran dan selalu menjaga kerukunan tercermin dari perilaku keseharian warga yang selalu harmonis dalam kehidupan bertetangga.

Baca Juga:   Safari Ramadhan DPP KNPI di Blitar: Baksos, Sholat Ghoib Hingga Tahlil di Makam Bung Karno

“Tetangga saya ada yang Kristen ada yang Islam. Tapi enggak ada masalah, bisa saling kumpul meskipun beda (agama),” ujar Setiyani.

Ungkapan senada disampaikan Anggraini Sukowati (16), gadis pemeluk agama Hindu.

“Di sini kalau ada acara-acara (keagamaan), semua saling menghormati,” ungkap siswi SMK Wijaya Ngoro ini.

Dusun Ngepeh secara administratif berada di wilayah Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro.

Wilayahnya berada di sebelah selatan Kabupaten Jombang, berjarak sekitar 20 kilometer dari pusat kota.

Perkampungan penduduk ini dihuni 550 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah penduduk lebih dari 2.500 jiwa.

Mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani, lalu sebagian kecil menjadi pedagang, wiraswasta, maupun pegawai pemerintah.

Kepala Dusun Ngepeh Sungkono menuturkan, kerukunan antar umat beragama di kampungnya terjalin sejak lama.

Baca Juga:   Wakaf Uang Untuk ASN Didukung Kemenag Pusat

Selama beberapa dekade, warganya selalu rukun meski berbeda keyakinan.

Di Dusun Ngepeh, ungkap dia, mayoritas warga memeluk agama Islam. Sekitar 15 KK memeluk agama Hindu dan sekitar 25 KK pemeluk Kristen.

Sungkono, Kepala Dusun Ngepeh, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Perkampungan yang terbagi menjadi 8 RW dan 14 RT tersebut, terdapat 1 masjid dan 18 mushala, 1 pura, dan 2 gereja.

Baca Juga:   Munas IX LDII, Presiden Ajak LDII Terus Tingkatkan Toleransi dan Sikap Terbuka

“Alhamdulillah, selama ini tidak pernah ada masalah. Sejak zaman nenek moyang, kami selalu rukun meskipun berbeda agama,” tutur Sungkono saat ditemui di kediamannya.

Sikap toleran dan selalu menjaga kerukunan antar warga beda agama di Dusun Ngepeh, salah satunya tercermin dari sikap ketika masing-masing pemeluk agama merayakan hari besar sesuai ajaran agamanya.

Selain saling menghormati, warga setempat juga saling menjaga dan mendukung agar hajatan masing-masing pemeluk agama bisa terlaksana dengan baik.

Baca Juga:   Meteri Agama Yaqut Cholil Haramkan Jual Beli Jabatan di Lingkup Kemenag

“Sama-sama saling membantu. Malah kemarin itu ada kegiatan takbiran dari umat Islam, waktu itu ada doorprize dan yang dapat malah umat agama lain. Itulah keanekaragaman yang ada di Dusun Ngepeh ini,” ungkap Sungkono

Menurut Sungkono, sikap toleran dan saling menjaga kerukunan yang diwariskan nenek moyang penduduk kampung, juga tercermin dari sikap masyarakat ketika ada penduduk yang meninggal dunia.

Saat mengetahui ada penduduk yang meninggal dunia, warga secara spontan membantu prosesi pemakaman, tanpa mengabaikan prosesi perawatan jenazah yang diyakini pemeluk agama masing-masing.

“Kalau ada yang meninggal, semua ikut membantu, tidak membeda-bedakan. Sudah jadi kebiasaan, kalau ada orang kristen meninggal, orang Islam yang menggali makam. Demikian pula sebaliknya,” kata Sungkono.

Baca Juga:   Pemahaman Al-Qur’an Makin Utuh, Kerukunan Beragama Terjaga

Menurut Pendeta Sulaiman, tokoh pemeluk agama Kristen Dusun Ngepeh, toleransi antar umat beragama di Dusun Ngepeh bukan sekadar slogan maupun kata-kata.

Kerukunan dan sikap saling gotong royong

Jurnalis: Yanti

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Berita Terbaru

Adblock Detected!

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by whitelisting our website.