KontrasTimes.Com, – Kabar duka dan insiden tragis menyelimuti dunia seni Betawi dan masyarakat Jakarta Timur, menyusul tewasnya seorang perempuan berinisial DA (37) dengan luka mengenaskan pada lehernya. Korban ditemukan tak bernyawa di dalam sebuah kamar kontrakan yang terkunci di kawasan Bambu Apus, Jakarta Timur, sebuah kejadian yang mengguncang ketenangan warga setempat. Yang lebih mengejutkan, korban diketahui merupakan cucu dari seniman legendaris Betawi, Nuri Sarinuri, yang lebih dikenal dengan nama Mpok Nori (1930-2015), sosok yang selalu identik dengan keceriaan dan kearifan lokal Betawi.
Penemuan jenazah DA ini segera memicu penyelidikan intensif dari pihak kepolisian. Berdasarkan hasil penyelidikan awal, kepolisian mengidentifikasi bahwa DA tewas akibat perbuatan keji mantan suami sirinya, seorang warga negara Irak berinisial F. Pelaku, yang sempat mencoba melarikan diri, kini telah berhasil ditangkap oleh aparat kepolisian, membawa sedikit kelegaan bagi keluarga korban yang tengah berduka dan menuntut keadilan. Konfirmasi mengenai identitas korban sebagai cucu Mpok Nori disampaikan langsung oleh kakak kandung korban, Aji Dwi Cahyadi, pada Minggu (22/3), sebagaimana dikutip dari laporan detik.com. Pengungkapan ini menambah dimensi kesedihan yang mendalam, mengingat Mpok Nori adalah ikon budaya yang karyanya selalu membawa kebahagiaan, kini keluarganya justru harus menghadapi tragedi yang memilukan.
Mpok Nori, yang wafat pada tahun 2015, dikenal luas sebagai maestro lenong dan topeng Betawi yang humoris dan berkarisma. Kiprahnya di dunia seni peran telah mengukir sejarah panjang, menjadikan dirinya salah satu penjaga sekaligus pengembang budaya Betawi. Warisan seninya yang tak lekang oleh waktu, berupa tawa, petuah bijak, dan semangat melestarikan tradisi, kini terbayang pilu oleh insiden kekerasan yang menimpa salah satu garis keturunannya. Kepergian DA secara tragis bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarga inti, tetapi juga bagi para pecinta seni dan kebudayaan Betawi yang turut merasakan kehilangan atas musibah yang menimpa keluarga seorang tokoh besar. Peristiwa ini sekaligus mengingatkan kita akan kerapuhan hidup dan betapa kekerasan bisa merenggut masa depan siapa saja, tanpa memandang latar belakang.
Kronologi penemuan jasad DA yang sudah tak bernyawa di kamar kontrakannya pada akhir pekan lalu diungkapkan secara detail oleh pihak keluarga, memberikan gambaran mengerikan tentang saat-saat terakhir korban dan upaya pencarian yang dilakukan. Kecurigaan bermula dari sang ibunda korban—yang juga merupakan salah satu anak Mpok Nori—yang merasa tidak tenang karena tidak dapat menghubungi putrinya. Pada hari Sabtu yang nahas itu, DA seharusnya memiliki janji penting untuk bertemu dengan pihak katering, sebuah agenda yang tidak mungkin dilewatkannya begitu saja. Namun, panggilan telepon berulang kali dari sang ibu tak kunjung dijawab, memicu firasat buruk yang mendalam.
Didorong oleh kekhawatiran yang kian memuncak, sang ibunda akhirnya mendatangi kontrakan anaknya di Bambu Apus. Setibanya di sana, ia berulang kali menggedor pintu, namun tidak ada respons. Pintu tetap terkunci rapat, seolah menyembunyikan rahasia kelam di baliknya. Beruntung, salah satu jendela kontrakan tersebut ternyata sedikit terbuka. Dengan hati yang berdebar, sang ibu mencoba mengintip dari celah jendela. "Di kontrakannya digedor-gedor kagak buka pintu. Nah, terus ternyata jendelanya terbuka itu. Dibuka, dilongok (diintip), kan dari jendela ke kasur itu agak jauh, sudah gitu agak gelap kan karena gak kelihatan, tapi melihatnya bayangan doang ada yang tergeletak di bawah," tutur Diah, kakak korban, kepada awak media di Jakarta, Senin (23/3), menggambarkan suasana mencekam saat itu.
Pemandangan samar bayangan tubuh yang tergeletak di lantai, di tengah kegelapan ruangan, sontak membuat ibunda korban panik. Tanpa pikir panjang, ia segera memanggil adik laki-lakinya—yang juga paman korban—untuk membantu. Adik laki-laki tersebut dengan cepat merespons, memanjat ke jendela, dan berhasil masuk ke dalam kontrakan. Setelah berada di dalam, ia segera membuka kunci pintu dari dalam, memungkinkan sang ibunda dan anggota keluarga lainnya untuk masuk. "Adik saya yang laki naik ke jendela, masuk, terus buka pintu udah tuh. Pas dibuka karena pintu dikunci, tapi kuncinya sudah di jauh dari pintu gitu (di atas meja). Pas lampu dinyalain, melihat masuk, sudah darah di mana-mana, di kasur, pokoknya begitu," sambung Diah, menceritakan kengerian yang mereka saksikan. Ruangan yang sebelumnya gelap, kini terang benderang, menyingkap pemandangan yang tak pernah mereka bayangkan: darah berceceran di mana-mana, di kasur, di lantai, menjadi saksi bisu kekejaman yang baru saja terjadi.
Melihat kondisi yang begitu mengenaskan, pihak keluarga segera melaporkan kejadian tersebut kepada Polsek Cipayung dan Polres Metro Jakarta Timur. Respons cepat dari aparat kepolisian segera ditindaklanjuti dengan serangkaian penyelidikan. Berbekal informasi awal dari keluarga dan petunjuk di lokasi kejadian, polisi mulai menelusuri jejak pelaku. Salah satu alat bukti krusial yang digunakan adalah rekaman kamera pengawas (CCTV) yang terpasang di sekitar lokasi kejadian. Rekaman tersebut menjadi kunci pembuka tabir misteri, memberikan gambaran jelas mengenai gerak-gerik mencurigakan seorang pria tak dikenal pada malam kejadian.

Dari rekaman CCTV, teridentifikasi sosok F, mantan suami siri korban. Rekaman menunjukkan F mendatangi rumah Dwintha, nama panggilan korban, pada Jumat (20/3) sekitar pukul 00.03 WIB. Dalam rekaman tersebut, F terlihat berjalan dengan santai, namun gerak-geriknya mengindikasikan sesuatu yang tidak beres. Ia terlihat menenteng sebuah benda yang sangat diduga kuat adalah senjata tajam, alat yang kemudian digunakan untuk melancarkan aksi keji tersebut. Hanya berselang beberapa menit, tepat pukul 00.09 WIB, F kembali terekam kamera. Namun kali ini, ia tidak lagi berjalan santai, melainkan berlari tergesa-gesa kembali ke arah semula, masih dengan menenteng benda yang sama. Perubahan kecepatan gerak dan ekspresi wajahnya yang tergesa-gesa menjadi indikasi kuat bahwa ia baru saja melakukan sesuatu yang mengerikan.
Berdasarkan bukti rekaman CCTV yang sangat jelas dan petunjuk lainnya, polisi segera melacak keberadaan F. Diketahui bahwa pelaku sedang mencoba melarikan diri, kemungkinan besar hendak menuju Pulau Sumatra, untuk menghindari kejaran hukum. Namun, upaya pelarian F tidak berhasil. Dengan koordinasi yang sigap, tim kepolisian berhasil menangkap F saat ia tengah menumpangi bus di Jalan Tol Tangerang-Merak pada Minggu, sehari setelah jenazah DA ditemukan. Penangkapan dramatis ini menandai berakhirnya pelarian singkat pelaku dan awal dari proses hukum yang akan ia hadapi. F, yang merupakan Warga Negara Irak, kini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum Indonesia.
Korban, DA, telah dimakamkan oleh pihak keluarga dalam suasana duka yang mendalam. Keluarga pun sempat menjelaskan mengenai hubungan antara korban dengan F yang memang diketahui tidak harmonis. Keduanya diketahui menikah secara siri pada tahun 2019. Sejak awal, hubungan mereka kerap diwarnai konflik dan ketidakcocokan. Salah satu dugaan motif kuat di balik pembunuhan keji ini adalah rasa cemburu yang membara dari F terhadap teman-teman dan lingkungan sosial DA. "Tadinya kan tinggalnya di Puncak, terus pas ini akhirnya pindah ke sini, tinggal di sini. Nah, ngontrak di situ juga karena baru karena adik saya diterima kerja di SPPG, jadi MBG kan," ungkap Diah, kakak korban, menjelaskan perubahan tempat tinggal adiknya.
Perubahan gaya hidup DA, terutama setelah ia mendapatkan pekerjaan baru yang membuatnya lebih sering berinteraksi dengan banyak orang, disinyalir menjadi pemicu utama kecemburuan F. Sebelumnya, DA dan F lebih sering menghabiskan waktu berdua, sehingga aktivitas sosial DA tidak terlalu banyak. Namun, pekerjaan baru tersebut membuka cakrawala baru bagi DA, memperluas lingkaran pertemanannya, dan memberinya lebih banyak aktivitas di luar rumah. "Nah, dari mulai situ kayaknya mungkin karena komunikasi adik saya banyak sama orang, biasanya kan dia berdua-dua aja tuh gak pernah ada ini. Nah, semenjak adik saya kerja, temannya banyak, jadi dia ada aktivitas keluar. Kayaknya diduga cemburu, rasanya begitu," kata Diah, menguatkan dugaan motif cemburu buta yang melatarbelakangi tindakan brutal tersebut. Cemburu yang tidak terkendali, ditambah dengan dugaan sifat posesif, tampaknya telah menguasai F hingga berujung pada tindakan kekerasan yang merenggut nyawa DA.
Kasus ini kembali menyoroti isu krusial tentang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan bahaya hubungan toksik yang bisa berujung pada tragedi fatal. Seringkali, tanda-tanda awal kekerasan, seperti rasa cemburu berlebihan, sikap posesif, atau kontrol terhadap aktivitas pasangan, diabaikan atau dianggap sebagai bentuk perhatian. Namun, seperti yang terlihat dalam kasus DA, pola-pola ini dapat meningkat menjadi kekerasan fisik dan bahkan pembunuhan. Penting bagi masyarakat untuk lebih peka terhadap tanda-tanda bahaya dalam hubungan dan tidak ragu mencari bantuan atau melaporkan jika ada indikasi KDRT.
Penangkapan F oleh polisi merupakan langkah awal dalam mencari keadilan bagi DA dan keluarganya. F kini dihadapkan pada ancaman hukuman berat, termasuk dakwaan pembunuhan berencana, mengingat adanya unsur kesengajaan dan persiapan yang terlihat dari rekaman CCTV. Statusnya sebagai Warga Negara Asing juga akan menambah kompleksitas dalam proses hukum, namun prinsip keadilan harus tetap ditegakkan tanpa pandang bulu. Keluarga DA berharap agar proses hukum berjalan seadil-adilnya dan pelaku mendapatkan hukuman setimpal atas perbuatannya.
Tragedi yang menimpa cucu Mpok Nori ini meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, kerabat, dan komunitas seni Betawi. Kehilangan seorang anggota keluarga secara keji adalah pukulan telak yang sulit disembuhkan. Semoga kasus ini menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya menjaga diri dan orang-orang terdekat dari ancaman kekerasan, serta pentingnya dukungan dan perlindungan bagi korban KDRT. Masyarakat diharapkan tidak menutup mata terhadap fenomena kekerasan yang masih sering terjadi di sekitar kita, agar tidak ada lagi nyawa yang melayang sia-sia karena cemburu buta dan nafsu amarah yang tak terkendali. Proses hukum terhadap F akan terus berjalan, dan publik menantikan keadilan yang sesungguhnya dapat ditegakkan bagi almarhumah DA.