KontrasTimes.Com, Serang – Sebuah insiden tragis menyelimuti objek wisata alam Curug Goong di Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Rabu (25/3). Seorang wisatawan bernama Fery (34), warga Kecamatan Pamarayan, Kabupaten Serang, diduga kuat terseret arus deras dan tenggelam saat berenang di salah satu spot air terjun yang populer tersebut. Peristiwa nahas ini memicu respons cepat dari tim SAR gabungan yang segera meluncur ke lokasi untuk melakukan pencarian intensif, menghadapi medan yang menantang dan kondisi air yang tidak menentu.
Kejadian bermula ketika Fery, bersama rekannya, tiba di Curug Goong sekitar pukul 12.00 WIB. Setelah menikmati suasana alam dan keindahan air terjun, mereka memutuskan untuk berenang di kolam bawah curug yang dikenal dengan kesegaran airnya. Sekitar pukul 13.45 WIB, saat Fery tengah asyik berenang, tiba-tiba arus air di sekitar lokasi dilaporkan menguat secara signifikan. Diduga, Fery tidak menyadari perubahan kondisi arus tersebut atau mungkin tidak mampu menahan hempasan air yang mendadak deras, sehingga ia terseret dan hilang ditelan kedalaman kolam curug.
Rizky Dwianto, Kasubsie Siaga dan Operasi Basarnas Banten, membenarkan insiden tersebut. "Korban berenang di area curug, namun diduga terseret arus dan tenggelam di sekitar lokasi kejadian," ujarnya pada Rabu sore, menegaskan bahwa laporan mengenai hilangnya Fery diterima oleh Basarnas sekitar pukul 14.35 WIB. Jeda waktu antara kejadian dan laporan ini menjadi krusial dalam upaya penyelamatan, mengingat setiap menit sangat berharga dalam kasus tenggelam.
Mendapat laporan darurat, Basarnas Banten segera mengaktifkan Unit Siaga SAR Pandeglang. Tim penyelamat yang dilengkapi dengan peralatan SAR air lengkap langsung diterjunkan menuju lokasi kejadian. Perjalanan menuju Curug Goong sendiri membutuhkan waktu dan kehati-hatian, mengingat akses jalan yang tidak selalu mulus dan medan yang cukup terjal di beberapa titik. Tim SAR tiba di lokasi sekitar pukul 14.55 WIB, hanya berselang 20 menit setelah laporan diterima, menunjukkan kecepatan respons yang tinggi.
Setibanya di lokasi, tim SAR gabungan segera melakukan koordinasi dengan potensi SAR lokal, termasuk pihak kepolisian setempat, Koramil, pengelola objek wisata, dan sukarelawan masyarakat. Koordinasi ini penting untuk memastikan setiap upaya pencarian berjalan efektif dan efisien, memanfaatkan pengetahuan lokal tentang medan dan kondisi air di Curug Goong. "Kita melakukan pencarian bersama tim SAR gabungan menggunakan rescue car serta membawa peralatan SAR air," jelas Rizky, merujuk pada perlengkapan seperti perahu karet, pelampung, tali, dan alat selam yang disiapkan untuk operasi ini.
Curug Goong, yang terletak di kaki Gunung Pulosari, memang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata alam favorit di Pandeglang. Dengan keindahan air terjun yang mengalir deras dari ketinggian, kolam alami yang jernih, dan suasana hutan yang asri, tempat ini kerap menjadi pilihan bagi wisatawan yang mencari ketenangan dan petualangan. Namun, di balik keindahannya, Curug Goong juga menyimpan potensi bahaya, terutama saat musim penghujan atau setelah hujan lebat. Arus bawah air yang kuat dan kedalaman kolam yang bervariasi bisa menjadi ancaman serius bagi pengunjung yang kurang familiar dengan kondisi alam setempat atau abai terhadap peringatan keselamatan.
Beberapa warga setempat mengungkapkan bahwa kondisi arus di Curug Goong memang bisa sangat tidak terduga. "Kadang terlihat tenang di permukaan, tapi di bagian bawah arusnya bisa sangat kuat, terutama kalau habis hujan di hulu," kata Bapak Supri, salah seorang warga yang sering membantu pengunjung. Ia menambahkan bahwa tidak semua titik di kolam aman untuk berenang, dan ada beberapa area yang memang dilarang karena kedalamannya yang ekstrem atau keberadaan pusaran air. Sayangnya, tidak selalu ada penjaga atau pemandu yang secara ketat mengawasi setiap pengunjung, terutama di hari kerja yang sepi.

Pencarian Fery difokuskan di sekitar kolam utama Curug Goong dan aliran sungai di bawahnya. Tim penyelam diturunkan untuk menyisir dasar kolam yang dalam dan berarus. Sementara itu, tim darat melakukan penyisiran di tepi sungai dan bebatuan di sekitar air terjun, berharap menemukan tanda-tanda keberadaan korban. Kondisi air yang keruh akibat sedimentasi dari hulu dan suhu air yang dingin menjadi tantangan tersendiri bagi para penyelam. Visibilitas di bawah air sangat terbatas, memaksa mereka untuk mengandalkan sentuhan dan kepekaan indra lainnya.
Keluarga Fery di Pamarayan, Serang, tentu saja diliputi kecemasan dan kesedihan mendalam begitu mendengar kabar tragis ini. Beberapa anggota keluarga dikabarkan telah bertolak menuju Pandeglang untuk memantau langsung proses pencarian. Mereka berharap Fery dapat segera ditemukan, meskipun dalam kondisi terburuk sekalipun. "Kami cuma bisa berdoa dan berharap Fery bisa segera ditemukan, apapun keadaannya," ujar salah seorang kerabat dengan suara bergetar, mencerminkan kepedihan yang dirasakan oleh seluruh keluarga.
Insiden ini kembali mengingatkan pentingnya kesadaran akan keselamatan saat berwisata di alam terbuka, khususnya di area perairan seperti air terjun atau sungai. Pengelola objek wisata juga memiliki peran vital dalam menyediakan fasilitas keselamatan yang memadai, seperti papan peringatan yang jelas, batasan area berenang yang aman, dan idealnya, keberadaan penjaga pantai atau petugas penyelamat yang siaga. Edukasi kepada pengunjung tentang potensi bahaya dan cara aman berinteraksi dengan alam harus menjadi prioritas utama.
"Setiap objek wisata alam, seindah apapun, pasti punya risiko," kata Dr. Budi Santoso, seorang pakar mitigasi bencana dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. "Penting bagi wisatawan untuk selalu mencari informasi tentang kondisi terbaru lokasi yang akan dikunjungi, tidak berenang sendirian, dan patuh pada semua peringatan yang ada. Bagi pengelola, standar operasional prosedur keselamatan harus diperketat, apalagi di lokasi yang memiliki arus deras atau kedalaman bervariasi."
Pencarian terhadap Fery terus dilanjutkan hingga malam hari, meskipun dengan keterbatasan penerangan dan risiko keselamatan bagi tim SAR. Lampu sorot dan senter digunakan untuk membantu visibilitas. Tim berencana untuk melanjutkan operasi pencarian secara intensif pada keesokan harinya jika Fery belum ditemukan. Harapan untuk menemukan korban selamat semakin menipis seiring berjalannya waktu, namun semangat tim SAR untuk membawa Fery kembali ke keluarganya tidak pernah padam.
Kasus tenggelamnya Fery di Curug Goong ini menjadi pengingat pahit bagi semua pihak. Bahwa di balik keindahan alam yang memukau, selalu ada potensi bahaya yang mengintai. Kesadaran diri, kehati-hatian, dan kepatuhan terhadap aturan keselamatan adalah kunci utama untuk mencegah tragedi serupa terulang kembali di masa mendatang. Pemerintah daerah dan pengelola objek wisata diharapkan dapat mengambil pelajaran berharga dari insiden ini untuk meningkatkan standar keselamatan di seluruh destinasi wisata alam di Banten.
Hingga berita ini diturunkan, Fery masih dalam pencarian. Seluruh tim SAR gabungan, dibantu oleh masyarakat sekitar, terus berupaya maksimal untuk menemukan Fery. Keluarga Fery dan masyarakat Serang dan Pandeglang berharap mukjizat dapat terjadi, meskipun mereka juga siap menghadapi kemungkinan terburuk. Insiden ini meninggalkan duka dan pertanyaan besar mengenai standar keselamatan di objek wisata alam yang seharusnya menjadi tempat rekreasi yang aman dan menyenangkan bagi semua pengunjung.