Selasa, April 16, 2024
Beranda Sample Page

Sample Page Title

KONTRASTIMES.COM-JAKARTA, Indonesia telah dihadapkan dengan fenomena ujaran kebencian yang marak di masyarakat. Dengan kondisi demografis Indonesia yang multi etnis dan budaya, maka hal tersebut dapat mengakibatkan konflik antar kelompok atau golongan. Untuk itu, seluruh masyarakat harus dapat menjaga kesepakatan-kesepakatan yang telah ditetapkan oleh para pendiri bangsa untuk menjaga keutuhan bangsa.

“Sampaikan kritik-kritik yang konstruktif agar penyampaian kritik dapat dilakukan dengan cara yang baik. Kalau seorang melakukan kritik lakukanlah dengan cara yang baik, jangan melanggar Undang Undang, jangan melanggar aturan tapi berikan kritik yang sehat saya kira itu tidak akan jadi masalah, supaya tidak terjadi konflik,” tegas Wakil Presiden (Wapres) K.H Ma’ruf Amin pada program CNN Indonesia Newscast, yang dilakukan secara virtual, Jakarta, Selasa, 16 Februari 2021.

“Ini kita kesepakatan kita itu harus dijaga, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan juga Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya dalam tataran kesepakatan politik, tapi juga tataran implementasinya,” tegas Wakil Presiden .

Dalam acara yang dipandu langsung oleh Eva Yunizar tersebut, lebih jauh Wapres menekankan agar menjaga pergaulan dengan cara penyampaian yang baik.

“Bagaimana kita menyampaikan sesuatu tanpa harus menyakiti orang, tanpa harus membuat orang menjadi marah, dengan cara-cara yang sopan, menjaga pergaulan yang sehat di antara semua warga bangsa,” imbau Wapres.

Dalam kesempatan tersebut, Wapres juga menjelaskan bingkai kerukunan yang kedua berupa bingkai yuridis yang memuat berbagai aturan.

“Kita harus mematuhi aturan-aturan yang sudah ada, yang dilarang seperti apa, yang dibolehkan seperti apa, tata aturan ini harus kita patuhi,” imbuhnya.

Kemudian yang ketiga itu, Wapres menambahkan, bingkai teologis yang terkandung dalam agama supaya menggunakan teologi kerukunan, tidak menggunakan teologi konflik.

“Dalam menyampaikan dakwahnya menyampaikan misi pesan agamanya itu harus menggunakan narasi-narasi kerukunan, narasi persaudaraan, jangan narasi kebencian dan permusuhan dan narasi konflik, sambungnya.

Bingkai yang terakhir, lanjut Wapres bingkai sosiologis berupa local wisdom yang mengandung upaya-upaya untuk melakukan kerukunan, hal tersebut harus dihidupkan dalam rangka menjaga kerukunan.

Baca Juga:   Gus Mus: Bersyair Menjadi Cara KH Hasyim Asy’ari Jaga Persatuan dan Kesatuan
Baca Juga:   Momen Para Pemimpin Dunia Ngobrol Santai Bersama Presiden Jokowi

“Nah kalau empat bingkai ini bisa kita kuatkan, saya kira Insya Allah menurut saya kebencian, kemudian juga cara-cara apa yang mengakibatkan terjadinya konflik itu bisa dihindari tanpa harus kehilangan urgensi kita bersikap kritis,”harap Wapres.

Di sisi lain, Wapres mengungkapkan bahwa pemerintah terbuka terhadap kritik-kritik yang konstruktif. Karena, dengan kritik membangun tersebut, pemerintah dapat memperbaiki serta melengkapi hal-hal yang masih dirasa kurang oleh masyarakat.

Lebih jauh Wapres menjelaskan dalam berdakwah harus berdiri di atas kesepakatan nasional menggunakan narasi-narasi kerukunan yang dijadikan pedoman dalam kehidupan bermasyarakat sehingga tidak terjadi konflik.

“Umat Islam menyampaikan dakwah melakukan upaya penyebaran agamanya atau juga dalam rangka melakukan penguatan agamanya harus dalam koridor kesepakatan itu,” terang Wapres.

Selain itu, Wapres mengungkapkan apabila ada yang menggeneralisir Islam sebagai sesuatu yang radikal, itu merupakan suatu kesalahpahaman.

“Islam radikal itu Islam yang keluar dari garis yang benar (yang wasathy itu), dan di kita Indonesia mainstream kita adalah yaitu Islam moderat,” jelas Wapres.

Menurutnya, Islam yang dikembangkan di Indonesia itu Islam yang moderat, bukan Islam yang radikal.

Ade Wibowo/Endy

Related Articles

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terbaru

Adblock Detected!

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by whitelisting our website.