Senin, April 15, 2024
Beranda Sample Page

Sample Page Title

Kontras TIMES.COM | Rembang, – Indonesia sebagai negara multikultural dengan beragam etnis, agama, dan budaya masyarakatnya, memiliki potensi tinggi terjadinya konflik akibat perbedaan tersebut.

Oleh sebab itu, penanaman nilai-nilai multikulturalisme seperti toleransi, saling menghormati dan menghargai, serta memiliki solidaritas tinggi di setiap daerah harus terus digalakkan untuk mencegah terjadinya perpecahan.

“Ini memang [Indonesia] punya modal seperti ini [multikultural], ini yang harus dikembangkan, dimasyarakatkan, disebarluaskan, dibangun, dijadikan model, mungkin nanti literatur yang dilahirkan, kenapa itu bisa terjadi,” ungkap Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin saat memberikan keterangan pers usai menghadiri Peringatan Haul ke-52 K.H. Ma’shoem Ahmad, Khotmil Qur’an, Rajabiyyah, dan Harlah NU ke-101 di Pondok Pesantren Kauman Lasem, Desa Jalan, Mahbong, Karangturi, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Sabtu (27/01/2024).

Hal tersebut, sambung Wapres, agar setiap kelompok etnis, agama, dan budaya yang berbeda dalam masyarakat dapat terus hidup berdampingan, sehingga keutuhan bangsa akan tetap terjaga.

“Kita intinya keutuhan bangsa dengan berbagai etnis maupun agama, kita dorong. Seperti di Papua, di daerah lain, itu kita bangun,” ujarnya.

Meskipun model pengaplikasian nilai-nilai multikulturalisme mungkin berbeda satu daerah dengan yang lainnya, Wapres meyakinkan bahwa pada dasarnya memiliki tujuan yang sama yakni menjaga bangsa Indonesia dari konflik dan perpecahan.

“Saya kira di tempat lain, walaupun dengan model yang lain bentuknya, tapi intinya satu, bagaimana membangun keutuhan bangsa ini dengan berbagai kultur, etnis, agama,” tegasnya.

Seperti di Rembang, contoh Wapres, masyarakat muslim dapat hidup damai selama berabad-abad dengan masyarakat etnis Tionghoa, hingga Rembang dikenal sebagai “Little Tiongkok”.

“Ternyata hubungan antara kalangan santri dan Tiongkok di sini sangat akrab, cair, dan tidak ada masalah. Saling mengunjungi, saling membantu,” beber Wapres.

“Jadi keakrabannya sejak abad ke-16, 17, itu sudah terbangun dan tidak ada konflik, tidak ada saling permusuhan,” imbuhnya.

Bahkan, lanjut Wapres, banyak gadis keturunan Tionghoa yang dipersunting para kiai Rembang. Menurutnya, inilah salah satu keunikan model aplikasi nilai-nilai multikulturalisme yang harus dipertahankan untuk menjaga keutuhan bangsa.

Baca Juga:   Ngaji Pancasila, Pengamalan Sila Keempat : Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan dan Perwakilan
Baca Juga:   Menhan RI Prabowo Lepas Kapal RS TNI KRI dr Radjiman-992 Kirimkan Bantuan Untuk Palestina

“Kita ingin masyarakat multikultural seperti ini, yang toleran tinggi ini, kita jadikan modal daripada membangun persatuan dan keutuhan bangsa, termasuk mau Pemilu ini. Ini supaya jangankan beda partai, beda pilihan capres, beda agama [dan] etnis saja nggak ada masalah,” tandasnya.

Mendampingi Wapres saat memberikan keterangan pers kali ini, Pj. Gubernur Jawa Tengah Nana Sudjana, Bupati Rembang Abdul Hafidz, Pengasuh Pondok
Pesantren Kauman Lasem K.H. Moch. Zaim Ahmad Ma’shoem, serta Staf Khusus Wapres Bidang Komunikasi dan Informasi Masduki Baidlowi. (EP/RJP-BPMI Setwapres/***)

Related Articles

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terbaru

Adblock Detected!

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by whitelisting our website.