Selasa, Juni 25, 2024
Beranda Sample Page

Sample Page Title

Kontras TIMES.COM | Pekanbaru,- Petani Sawit 22 Provinsi antusias Sambut Wakil Presiden (Wapres) KH. Ma’ruf Amin di Santripreneur Berbasis Sawit di Bumi Lancang Kuning Pekanbaru, Riau pada h Kamis, 25 Agustus 2022.

Kunjungan ini untuk menghadiri beberapa kegiatan, salah satunya adalah untuk melakukan peninjauan kegiatan Santripreneur Berbasis sawit yang bekerjasama dengan APKASINDO (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia), dengan agenda panen perdana pembibitan sawit santri, penanaman kecambah sawit hybrid bersama 100 santri dan pengenalan teknologi proses pengolahan pabrik minyak makan merah (M3).

Sejarah Satripreneur UMKM Berbasis Sawit

Diketahui bahwa Santripreneur adalah program yang launching oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin pada Oktober 2020 lalu. Dalam Pidato sambutannya yang dimuat di Kompas (1/10-2020), Wakil Presiden menjelaskan jumlah pesantren yang tersebar di seluruh wilayah Tanah Air berjumlah sekitar 28.194. Kemudian, sebanyak 44,2 persen atau sekitar 12.469 di antaranya berpotensi untuk pengembangan ekonomi. Dengan program ini, kata Ma’ruf Amain, terkhusus pesantren yang berada di daerah penghasil komoditi sawit dapat berperan dalam menggerakkan roda perekonomian daerahnya.

“Agar program ini berhasil, perlu dikembangkan kolaborasi dan kemitraan yang melibatkan tiga entitas yakni pemerintah baik pusat maupun daerah, dunia usaha, dan pesantren itu sendiri,” kata Ma’ruf Amin.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) APKASINDO, Dr. Gulat ME Manurung, MP.,C.IMA, menjelaskan bahwa Program Santripreneur Pembibitan Sawit Hibrid ini adalah turunan dari Program Santripreneur UMKM Berbasis Sawit yang dicanangkan oleh Wakil Presiden Oktober 2020 lalu.

“Sejak di launching oleh Wakil Presiden Program Satripreneur, APKASINDO langsung ambil peran untuk mensukseskannya”. Karena memang sesuai arahan Wapres “Program Santripreneur ini harus dikerjakan tiga entitas”, APKASINDO adalah salah satunya yang bekerjasama dengan Pondok-Pondok Pesantren dan sudah berjalan di dua provinsi, Riau dan Kalimantan Barat, kata Gulat.

Setelah APKASINDO melakukan beberapa kali rangkaian kegiatan persiapan SDM terhadap Santri dan alumni ponpes tentang aspek agronomis kelapa sawit dan hilirisasi sawit, maka selanjutnya dilakukan pembangunan Pusat Pembibitan Kelapa Sawit di Pondok Pesantren Teknologi. Tepatnya tanggal 2 September 2021 Wakil Presiden meresmikan Pusat Pembibitan Kelapa Sawit Kerjasama APKASINDO dengan Ponpes Teknologi Riau.

Rangkaian kegiatan menuju pembangunan pusat pembibitan tersebut dimulai dari pelatihan “Pemberdayaan Usaha Kecil Menengah dan Koperasi (UKMK) Pondok Pesantren di Perkebunan Sawit Melalui Kegiatan Pembibitan Guna Mendukung Program Peremajaan Sawit Rakyat dan Santripreneur” Februari 2021. Lalu dilanjutkan dengan pelatihan tahap kedua (Oktober 2021) untuk menguasai informasi dan pengetahuan perkelapasawitan mulai dari penanaman, perawatan, hingga pengolahan. Pelatihan tahap satu dan dua yang didukung penuh oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) ini, di khususkan kepada Ustad dan Alumni Pondok Pesantren (ITMAM Riau) yang tertarik dibidang sawit, totalnya mencapai 250 orang yang berasal dari 55 Pondok Pesantren se Riau dan ITMAM.

Potensi dan Peluang Santripreneur Berbasis Sawit (Pembibitan Sawit) di Riau

Baca Juga:   Tanpa Terkecuali, Wapres Tegaskan Semua Orang Harus Patuh Pada Penegakan Hukum

Mengapa DPP APAKSINDO mendorong Santripreneur masuk ke sector pembibitan Kelapa Sawit di Riau ?. Karena Riau sebagai provinsi terluas perkebunan sawit di Indonesia, yaitu 4,172 juta ha (25% dari total luas perkebunan sawit Indonesia, 16,38 juta ha), urai Gulat.

Baca Juga:   Tanpa Terkecuali, Wapres Tegaskan Semua Orang Harus Patuh Pada Penegakan Hukum

Diketahui dari 4,172 juta hektar tersebut, potensi tanaman yang masuk kriteria di replanting (diremajakan) adalah sekitar 780.000. Dan tahun ini Riau mendapat bantuan peremajaan sawit yang didanai oleh BPDP-KS untuk diremajakan melalui program PSR adalah seluas 11.400 hektar. Luas PSR yang didanai oleh BPDPKS ini membutuhkan bibit sawit hybrid sebanyak 1.824.000 bibit. Belum lagi peremajaan sawit yang dilakukan secara swadaya petani sawit dan korporasi diperkirakan tahun 2022 ini mencai 26.000 ha dan membutuhkan bibit sawit hybrid sebanyak 4.160.000 bibit.


Dengan demikian kebutuhan total bibit sawit hybrid di Riau tahun ini mencapai 5.984.000 bibit. Bagaimana kesanggupan Riau (penangkar) dalam memenuhi kebutuhan bibit sawit hybrid ini ?. Dari catatan APKASINDO (2021), diketahui kemampuan Pangkar Resmi bibit sawit di Riau tahun 2022 ini hanya mampu menyediakan 1.200.000 bibit. Sisanya dipenuhi dengan membeli dari luar provinsi Riau atau dibeli dari penangkar tidak resmi.

Membeli dari luar Riau tentu akan membengkakkan biaya angkutan (mobilisai) dan jika membeli dari penangkar tidak resmi tentu akan beresiko bibitnya tidak hybrid atau illegetim (Palsu). Bibit illegitim akan menghasilkan hasil panen TBS 40-60% dibawah normal. Normalnya adalah 2,5-3,5 ton TBS/ha/tahun.

Keuntungan dari pembibitan sawit ini juga sangat menjanjikan. Jika harga jual 1 bibit sawit siap salur (umur 12 bulan) Rp.45.000/bibit dan modal per 1 bibit diketahui Rp25.000/bibit, maka keuntungan bersihnya mencapai Rp20.000/bibit. Dengan demikian jika melakukan pembibitan sawit sebanyak 10.000 bibit, maka keuntungannya sebesar Rp200.000.000. Tentu ini usaha yang cukup produktif dilakukan oleh pondok pesantren yang lokasinya diseputaran perkebunan sawit. Apalagi dalam penangkaran bibit sawit ini tidak dibutuhkan skill yang tinggi, semua orang bisa melakukannya asalkan ada pendampingan. Pendampingan inilah peran dari APKASINDO.

Yang akan dikunjungi Pak Wapres kali ini adalah keberhasilan dari proses pelatihan satu tahun lalu, seperti Santripreneur berbasis Pembibitan sawit. Bibit sawit ini toalnya berjumlah 100 ribu dengan umur yang bertingkat yang dikembangkan di Pondok Pesantren Teknologi Riau. Bibit sawit yang dikembangkan berasal dari PPKS Medan, Topaz (Asian Agri Group), Damimas (Sinarmas Group), Sriwijaya (Sampurna Agro Group) dan yang terakhir kali bergabung jenis First Resources (Surya Dumai Group). Semua bibit yang dikembangkan ini merupakan rantai pasok bibit unggul bersertifikat untuk Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Sampai dengan bulan ini, umur yang sudah siap salur sudah mencapai 30 ribu batang dan sudah ber label biru yang disertifikasi oleh Dinas Perkebunan Riau. Semua bibit siap salur ini sudah di pesan koperasi peserta PSR Nasional bahkan yang masih berumur 3 bulan saja sudah langsung di booking. Khusus untuk bibit sawit yang sudah label biru ini, tanggal 25 Agustus nanti akan diserahkan secara simbolik oleh Wakil Presiden kepada Koperasi Peserta PSR yang sudah memesan sejak 3 bulan lalu.

Baca Juga:   Jelang Pemilu 2024, Wapres RI Tegaskan Semua Parpol Harus Patuhi Undang-Undang

Pada acara tersebut juga akan dilakukan penanaman kecambah sawit hybrid oleh 100 santri dari berbagai pondok pesantren disaksikan 22 Ketua Provinsi APKASINDO, mereka akan datang dari Aceh sampai Papua. Kehadiran Ketua-Ketua APKASINDO dari 21 Provinsi ini untuk menduplikasi program ini di provinsi APKASINDO lainnya.

Baca Juga:   Gibran Batal Dilantik Jadi Walikota Solo

Wapres juga akan menyerahkan secara simbolik sumbangan kecambah sawit sebanyak 10.000 kecambah hybrid kepada Pengelola Pondok Pesantren Teknologi Riau. Adapun sumbangan ini berasal dari Sinarmas sebanyak 5.000 kecambah (jenis DxP Damimas) dan Surya Dumai (DxP First Resources) sebanyak 5.000 kecambah. Kecambah ini akan ditangkar oleh Santripreneur dan kemudia akan disalurkan untuk program peremajaan sawit rakyat.

Rangkaian kegiatan lainnya juga akan dilaksanakan Pameran Kecambah Unggul Kelapa Sawit yang akan dilakukan oleh PPKS Medan, Asian Agri Group, Sinarmas Group, Sampurna Agro Group dan Surya Dumai Group.

Potensi Home Industri UMKM Pabrik Minyak Makan Merah (M3)


Kedepannya kami juga berharap, khusus nya untuk Hilirisasi Pabrik Minyak Goreng Merah (M3) di Pondok Pesantren yang potensial, BPDP-KS tetap bisa menjadi pendukung utama program Santripreneur UKMK Berbasis sawit ini. Perlu diketahui bahwa dana BPDP-KS ini bukan APBN, tapi dana yang dikumpulkan oleh BPDP-KS melalui pungutan ekspor CPO dan turunannya yang dibebankan ke TBS Petani sawit, dimana sebelumnya Rp600/kg TBS. Namun sejak tanggal 15 Juli lalu, Pungutan Ekspor tersebut di nol kan sementara karena situasi turbulensi harga TBS, lanjut Gulat.

Sebagai wujud keberlanjutan program santripreneur berbasis sawit ini, juga dilakukan ekspose tentang Minyak Makan Merah (M3). Minyak makan merah ini pada 3 bulan terakhir sangat viral, dan akan menjadi bagian kegiatan kunjungan Wapres ke pondok pesantren teknologi Riau. “Nanti akan diperagakan oleh Direktur Utama Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Dr. Ir H.M. Edwin Lubis, M.AgriSc melalui visual proses pembuatan M3”, kata Gulat. Dan hasilnya (minyak goreng M3) akan langsung diperagakan dengan cara menggoreng beberapa makanan jajanan rakyat. Tujuannya supaya masyarakat cepat akrab dengan M3 ini sebagai minyak goreng yang kaya akan gizi dan vitamin. Diketahui juga bahwa Minyak makan merah ini sangat efektif untuk anti stunting karena M3 kaya kan Provitami A.

Jika Pabrik M3 ini dapat dikembangkan di pondok-pondok pesantren, kedepannya ketergantungan masyakarat akan minyak goreng yang saat ini digunakan oleh masyarakat, paling tidak 30% dapat terpenuhi dari Minyak Makan Merah ini. Hal ini akan mengurangi resiko kelangkaan dan mahalnya minyak goreng seperti kejadian dari Januari sampai Akhir Juli lalu.

Sumber: Setwapres-Rusmin Nuryadin

Related Articles

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terbaru

Adblock Detected!

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by whitelisting our website.