Kamis, Mei 30, 2024
Beranda Sample Page

Sample Page Title

Kontras TIMES.COM | Jejak Sejarah- Jawa Dwipa yang saat ini telah menjadi bagian dari sejarah Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, pernah berada pada 2 Zaman Keemasan (Istilah lain dari Zaman Kejayaan) yakni:

1. Zaman Hindu dan Buddha Ketika Majapahit Menyatukan Nusantara, Puncaknya pada masa Majapahit dipimpin Prabu Hayam putra Ratu Tribhuwantottunggadewi  dan Mahapatih Amangkubumi Gajah Mada.

234 Tahun Umur Majapahit -Nusantara

Runtuh: 1527 M- Berdiri 1293 M (Keruntuhan: Invansi Kesultanan Demak)

2. Zaman Kuwalen Jawa- Islam, Berdirinya Wali Songo Tanah Jawi, Majapahit Runtuh Digantikan Kesultanan Demak (Simbul Negara/Pemerintahan) dan Berdirinya Kasunanan sebagai wadah pendidikan, penguatan dan pembangunan peradaban Jawa-Islam .

274 Tahun Umur Giri Kedaton

Runtuh: 1744 M Mulai Berdiri Mulai Dari Padepokan: 1470 (Keruntuhan: Pangeran Singosari Giri Kedaton Perang Dengan Bupati Kanoman dan Bupati Kesepuhan yang didukung dan didalangi Mataram)

Pada zaman Kuwalen Jawa- Islam, banyak keturunan Raja-raja yang kemudian mendermakan hidup mereka sebagai ulama ‘ dengan menyembunyikan gelar Raden kebangsawanan Jawa, namun bagi mereka yang keturunan Raja-raja yang menjadi Petinggi atau Pejabat Kerajaan masih menjadikan Gelar Raden kebangsawanan Jawa sebagai kekuasaan menurun.

Berdirinya Mataram dan Lahirnya Zaman Kolonialisme VOC Belanda

Kanjeng Sunan Giri jauh hari telah meramalkan adanya “Zaman Walian – Kawulo Dadi Gusti, Gusti Dadi Kawulo” yang itu ditandai dengan berdirinya Mataram Islam (1586 M) dan Lahirnya Zaman Kolonialisme VOC Belanda, bahwa untuk Untuk melaksanakan kekuasaannya di Indonesia, diangkatlah Gubernur Jendera VOC antara lain sebagai berikut. Pieter Both, yaitu Gubernur Jenderal VOC pertama yang memerintah tahun 1610-1619 di Ambon. Jan Pieterzoon Coen, yaitu Gubernur Jenderal VOC kedua yang memindahkan pusat VOC dari Ambon ke Jayakarta.

Dalam Babad Tanah Jawi, Meinsma, 1874, #778 (Hlm. 181), Sunan Giri Sayyid Muhammad Fadlullah Pratikal atau  Sunan Prapen Kasunanan Giri Kedaton (1548–1605), meramalkan sebagai berikut:

Wirayatku iki wis pinêsthi karsaning Allah, yèn ratu ing Mataram besuk bakal angrèh wong tanah Jawa kabèh, sanajan ing Giri kene besuk ya têluk marang ing Mataram. Sabab karsaning Allah iku wis ora kêna owah, ginawe jaman walikan. Gusti dadi kawula, kawula dadi gusti, pratandhane wis ana ing Pajang lan ing Mataram iku. (181).

Sunan Prapen Kasunanan Giri Mencegah Raja -Raja di Jawa Timur menyerang Mataram dan Meminta Raja-raja di Jawa Timur menerima Mataram sebagai kerajaan Baru.

Giri Kedhaton yang dalam BTJ disebutkan sebagai berikut: “Kacariyos pangeran ing Surabaya kaklêmpakan kalihan para bupati bang wetan, kang dèrèng karèh ing Matawis, apirêmbagan sumêja ambêdhah ing Matawis. Sabab sampun lami ênggènipun sami dipun oyak-oyak. Samangke badhe malês angoyak-oyak. Dadosing rêmbag lajêng sami sowan dhatêng ing Giri. Para bupati wau sami anyuwun idi dhatêng Sang pandhita, nanging Sang pandhita botên purun angidini. Karana Sang pandhita sampun sumêrêp ing papêsthèning Allah, yèn nagari ing Matawis badhe angrèh ing tanah Jawi sadaya. Para bupati wau botên kalilan anglajêngna ing pikajênganipun. Mongsa wandea anêmahi karisakan. Nanging para bupati wau amêksa, sabab angandêlakên balanipun kathah sarta sabiyantu kalihan para bupati. Para bupati wau sampun pamit saking Giri, lajêng sami kalêmpakan wontên ing Surabaya, apirêmbagan bab margi kang badhe dènambah. Aturipun kajinêman ing Surabaya, prayogi mêdal ing Madiun. Papanipun radin, mirah wontên pantun, toyanipun kathah.” (BTJ-Jalidu ed. 2014, 130)

“Dikisahkan Pangeran Surabaya berkumpul bersama para bupati Jawa Timur yang belum ditaklukkan oleh Mataram, mereka berunding tentang niat mereka  untuk menaklukkan Mataram. Karena sudah lama mereka dikejar-kejar  selama ini. Di kemudian hari mereka akan membalas perbuatan itu. Hasil perundingan tersebut, mereka sepakat untuk sowan ke Giri.  Para bupati meminta restu kepada Sang Pandhita (Sunan Giri) namun Sang Pandhita tidak mau memberikan restu. Karena Sang Pandhita sudah mengetahui takdir dari Allah bahwa Mataram kelak akan menaklukkan tanah Jawa semuanya. Para bupati tidak mendapatkan restu untuk melanjutkan keinginan mereka. Daripada mereka akan menerima . Namun para bupati tadi tetap memaksa, karena mereka lebih memercayai bala pasukannya yang banyak serta para sekutunya. Para bupati tadi sudah pamit dari Giri, kemudian berkumpul di Surabaya,  mereka  berunding tentang jalan yang akan ditempuh.  Mata-mata di Surabaya mengusulkan untuk lewat Madiun. Tanahnya rata, padinya (bahan pangan) murah, dan banyak airnya,”

Ironi Leluhur Mataram -Islam Melawan Kasunanan Giri Kedaton

1. Pendiri Mataram Panembahan Senopati (Danang Sutowijoyo) dan Ki Gede Pemanahan, melakukan pemberontakan terhadap tuannya Kesultanan Pajang (Hadiwijaya -Joko Tingkir) yang sebelumnya memberikan Tanah Perdikan untuk Sutowijoyo dan Ki Gede Pemanahan atas jasanya membalaskan dendam Ratu Kalinyamat dengan membunuh Aryo Penangsang, dimana Mataram awalnya adalah vasal dari Pajang.

Mas Karèbèt  atau Joko Tingkir bergelar Sultan Hadiwijaya/Adiwijaya, memberikan hadiah atas sayembara pembalasan dendam Kematian Suami Ratu Kalinyamat (Pangeran Hadiri ) yang dibunuh Arya Penangsang.

Dalam sayembara tersebut, Ki Ageng Penjawi dan Ki Ageng Pemanahan mengatur siasat supaya kesaktian Arya Penangsang luntur, dan kemudian saat terjadi pertempuran antara Pasukan Arya Penangsang, melawan Pasukan Pasukan Pajang yang dipimpin Ki Ageng Penjawi dan Ki Ageng Pemanahan, anak Ki Ageng Pemanahan Sutawijaya dengan membawa Tombak Pusaka Kyai Plered (Pusaka Joko Tingkir) berhasil membunuh Arya Penangsang.

Jasa diberikan untuk Ki Ageng Penjawi mendapatkan hadiah tanah pati dan Ki Ageng Pemanahan diberi hadiah tanah Mataram ,  sementara itu Anak Ki Ageng Pemanahan Sutawijaya (Pendiri Mataram-Panembahan Senopati) menjadi anak angkat Joko Tingkir.(Sultan Pajang), kisah lain menyebutkan Sutawijaya merupakan anak kandung dari pernikahan Joko Tingkir dengan anak Ki Ageng Pemanahan.

Pemberian hadiah untuk Ki Ageng Pemanahan sempat tertunda, akibat Ramalan Sunan Prapen Kasunanan Giri Kedaton: Sampai tahun 1556, tanah Mataram masih ditahan Adiwijaya (Jaka Tingkir).

Baca Juga:   Menteri Suharso Beberkan Program Alternatif Development Pada Webinar BNN

Ki Ageng Pemanahan segan untuk meminta. Sunan Kalijaga selaku guru tampil sebagai penengah kedua muridnya itu. Ternyata, alasan penundaan hadiah adalah dikarenakan rasa cemas Adiwijaya (Jaka Tingkir) ketika mendengar ramalan Sunan Prapen bahwa di Mataram akan lahir sebuah kerajaan yang mampu mengalahkan kebesaran Pajang. Ramalan itu didengarnya saat ia dilantik menjadi raja usai kematian Arya Penangsang.

Baca Juga:   Ulah Oknum Main Tembak di Cafe, Anggota Polri di Larang Pergi ke Tempat Hiburan dan Meminum Minuman Keras

Sunan Kalijaga meminta Adiwijaya (Joko Tingkir) agar menepati janji karena sebagai raja ia adalah panutan rakyat. Sebaliknya, Ki Ageng Pemanahan juga diwajibkan bersumpah setia kepada Pajang. Ki Ageng bersedia. Maka, Adiwijaya pun rela menyerahkan tanah Mataram pada kakak angkatnya itu.

2. Mataram berusaha menaklukkan Kasunanan Giri Kedaton, namun sepertinya Raja-raja Mataram tidak cukup tangguh untuk melawan langsung Penerus Sunan Giri, sehingga melakukan adu domba antar keturunan Walisongo yang tidak lain juga merupakan leluhur wangsa Mataram.

A. Menjadikan Keturunan Sunan Kalijogo Ngadilangu Penasehat kerajaan Mataram, dalam arti kata tidak lagi seperti Kesultanan Pajang Pajang dan Kesultanan Demak yang menjadikan semua penerus Wali Songo sebagai Penasehat Kerajaan.

B. Sultan Agung Mataram Menikahkan adiknya Ratu Pandansari dengan Pangeran Pekik keturunan Sunan Ampel, dan mengangkat Pangeran Pekik menjadi Adipati Surabaya, kemudian pada tahun 1636 M, Sultan Agung memerintahkan Pangeran Pekik menyerang Kasunanan Giri Kedaton, dimana Pasukan dibantu dari Mataram dan Wilayah taklukkan Mataram untuk menyerang Kasunanan Giri Kedaton.

C. Sultan Agung mengangkat dirinya, dengan gelar Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Sultan Agung Adi Prabu Anyakrakusuma Senapati ing Ngalaga Abdurrahman Sayyidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawi atau Sultan Agung
Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarani al-Jawi.

Panembahan Ageng Giri, putra Panembahan Kawis Guwa Kawis Guwa dan Adipati Trunojoyo menganggap Gelar Sultan Agung tersebut hanya akal-akalan dari Sultan Agung, dengan beralasan Sultan Agung tidak layak disebut Panatagama Khalifatullah Tanah Jawi, sebab telah mengadu domba dan menumpahkan darah keturunan wali songo dan Ulama’.

Panembahan Ageng Giri bersama Adipati Trunojoyo dari Madura melakukan serangan Balasan Ke- Jantung Kota Mataram

Panembahan Ageng Giri, putra Panembahan Kawis Guwa, bersama Adipati Trunojoyo dari Madura melakukan serangan Balasan Ke- Jantung Kota Mataram pada 1677, yang waktu itu dipimpin oleh putera Sultan Agung, yaitu Amangkurat I (Raja Mataram ke-keempat dengan Gelar gelar susuhunan.

Panembahan Ageng Giri dan Trunojoyo berhasil Menaklukan Keraton Plered Mataram

Penyerangan  Panembahan Ageng Giri dan Trunojoyo sukses menaklukan Keraton Plered Mataram dan memaksa Raja Mataram Amangkurat I melarikan diri untuk meminta perlindungan VOC, Belanda tetapi meninggal dunia ketika dalam perjalanannya.

Mataram Dikendalikan VOC Belanda

Raja Mataram ke-5 Raden Mas Rahmat, putra Amangkurat I, kemudian naik takhta menjadi Raja Mataram dan membangun koalisi Baru dengan VOC Belanda, selanjutnya membagi wilayah taklukkan Mataram dengan VOC Belanda, seperti Blambangan (sekarang Banyuwangi) dan Madura diberikan ke VOC Belanda sebagai hadiah.

Kasunanan Giri Kedaton Diserang Pasukan Gabungan Mataram, VOC Belanda dan Pasukan Kadipaten Kadilangu

Raja Mataram ke-5 Amangkurat II atau Raden Mas Rahmat kembali melakukan penyerangan terhadap Kasunanan Giri Kedaton, dengan menggerakkan Pasukan Gabungan dari Mataram, Pasukan VOC Belanda dan dari Kadipaten Kadilangu,  pada 1679-1680. (Pasukan Santri Giri Kedaton ditaklukkan, namun baru Runtuh: 1744 M).

Pasca perang melawan Kasunanan Giri Kedaton , Amangkurat II naik takhta atas bantuan VOC dan pada awal pemerintahannya tampak dengan mudah tunduk pada VOC. Ia juga berhutang atas biaya perang sebesar 2,5 juta gulden.

Pada tahun 1685 Amangkurat II pura-pura  melindungi buronan VOC Belanda Untung Suropati yang tinggal di rumah Patih Nerangkusuma, Untung Suropati diberinya tempat tinggal di desa Babirong untuk menyusun kekuatan.

Bulan Februari 1686 Kapten François Tack tiba di Kartasura untuk menangkap Untung Suropati. Amangkurat II pura-pura membantu VOC. Pertempuran terjadi. Pasukan Untung Suropati menumpas habis pasukan Kapten Tack. Sang kapten sendiri mati dibunuh oleh pasukan Untung Suropati.

Mataram Mengadu Domba Kasunanan Giri Kedaton dengan Bupati Gresik dan Bupati Kasepuhan, hingga terjadi pertempuran antara Pasukan Santri Kasunanan Giri Kedaton melawan dua Pasukan Bupati Gresik dan Bupati Kasepuhan, pada Runtuh: 1744 M. (Tahun, Kasunanan Giri Kedaton Runtuh- setelah 274 Tahun )

Berikut Daftar Para Wali Zaman Kuwalen Jawa Dwipa, dilangsir dari berkala arkeologi, Suwedi Montana bersumber dari beberapa kitab serat dan babad:


A. MPVJ

1. Pangeran Bonang
2. Pang _~ran Majagung
3. Pangeran Cerebon
4. Pangeran ing Kali Jaga
5. Seh Bentong
6. Molana Magribi
7. Seh Lemah Bang
8. Pangeran ing Giri Gajah

B. BTJl
1. Sunan Ampel
2. Sunan Giri
3. Sunan Kudus
4. Sunan Kali
5. Seh Siti Jenar
6. Molana Brahim Asmara
7. Ki Ageng Sela.

C. BTJ2
1. Sunan Kali Jaga
2. Sunan Kudus
3. Sunan Purwaganda
4. Sunan Giripura
5. Pangeran Gunung Jati
6. Pangeran Tembayat
7. Pangeran Majagung
8. Pangeran Pangalasan
9. Pangeran Kaos
10. Pangeran Palembang
11. Seh Siti Jenar
12. Sunan Bonang
13. Seh Mlaya
14. Pangeran Ngudung
15. Pangeran Modang
16. Sunan Geseng.

D. SBTl
1. Pangeran Kali Jaga
2. Molana Bagdad
3. Molana Rahmat
4. Sunan Gunung Jati
5. Sunan Bonang.
6. Sunan Giri
7. Sunan Kudus
8. Seh Majagung
9. Molana Magrib
10. Seh Bentong
11. Seh Len1ah Bang.

E.SBT2
1. Pangeran Rahmat
2. Pangeran Bonang
3. Pangeran Darajat
4. Pangeran Giri Kadaton
5. Pangeran Karang Kamuning
6. Seh Nurullah
7. Mahdum Sampang
8. Kiyahi Wurayapada
9. Kiyahi Gedeng Palembang
10. Kiyahi Gedeng Kali Jaga
11. Pangeran ing Kudus
12. Pangeran Palalangon

Baca Juga:   Kasad Jenderal TNI Dr. Dudung Abdurachman Pimpin Sertijab Dua Pejabat Pangdam

F. NTB
1. Sunan Ampel Denta
2. Sunan Bonang
3. Sunan Giri
4. Sunan Kali Jaga
5. Sunan Darajat
6. Sunan Gunung Jati
7. Sunan Murya
8. Sunan Kudus
9. Sunan Wilis
10. Sunan Miweran
11. Sunan Demak
12. Sunan Ngudung
13. Sunan Melaya
14. Sunan Kertayasa
15. Seh Siti Jenar

Baca Juga:   Diklat Integrasi, TNI-Polri Pererat Soliditas Antar Aparatur Negara

G. BCl
1. Kangjeng Sinuhun Cerebon
2. Sultan Giri Gaja
3. Kangjeng Sunan Bonang
4. Sunan Jelang
5. Susuhunan Bentong.
6. Sunan Kudus
7. Sunan Kadaton
8. Sunan Sasmita
9. Sunan Kajamus
10. Sunan Adi
11. Pangeran Mahdum
12. Pangeran Tuban

H. BC2
1. Sunan Giri
2. Seh Siti Jenar
3. Sunan Kali Jaga
4. Sunan Wuryapada
5. Pangeran Cerebon
6. Pangeran T embayat
7. Pangeran Giri Gajah
8. Pangeran Majagung
9. Pang~ran Kaos
10. Pangeran Palembang
11. Seh Molana Magribi

I.  BC3
1. Pangeran Bonang
2. Pangeran Kali Jaga
3. Mutana Rum
4. Seh Bentong
5. Sunan Welang
6. Pangeran Jarakan
7. Pangeran Giri Kedaton
8. Pangeran Jagung
9. Seh Magrib
10 .. Seh Lemah Bang
11. Sunan Purba

J. BC4
1. Seh Lemah Bang
2. Molana Magrib
3. Sunan Jati
4. Santri Kudus
5. Sunan Kali
6. Sunan Bonang
7. Seh Bentong
8. Seh Majagung
9. Sunan Giri

K.BC5
1. Sunan Darajat
2. Molana Magribi ·
3. Sunan Bonang
4. Sunan Giri
5. Sunan Gunung Jati
6. Sunan Kudus ·
7. Pangeran Majagung
8. Seh Bentong
9. Seh Lemah Bang.

L.BO
1. Raden Rahrnat
2. Prabu Satmata
3. Seh Bentong
4. Mulana lskak —
5. Sunan Bonang
6. Sunan Gunung Jati
7. Seh Mulana Magribi
8. Seh Mlaya
9. Seh Siti Jenar
10. Pangeran Cerebon
11. Pangeran Palembang
12. Sunan Ngudung
13. Sunan Ngatas Angin
14. Sunan Wuryapada
15. Seh Mulana
16. Pangeran Bayat
17. Seh Domba
18. Sunan Geseng
19. Pangeran Kudus
20. Seh Majagung
21 . Sunan Sendang

M. NJB
l. Pangeran Bonang
2. Pangeran Majagung
3. Pangeran Cerbon
4. Seh Lemah Abang
5. Seh · Bentong
6. Molana Magribi
7. Sunan Ampel Denta
8. Sunan Giri
9. Sunan Kali Jaga

N.SKD
1. Sunan Ampel
2. Sunan Giri ,,.
3. Sunan Cerbon
4. Sunan Geseng
5. Sunan Majagung
6. Seh Lemah Bang
7. Sunan Undung
8. Sunan Bonang
9 . Sunan Darajat
l 0. Su nan Kali Jag a

O.SSJ
1. Seh Siti Jenar
2. Sunan Bonang
3. Sunan Kali Jaga
4.· Pangeran Bayat
5. Jeng Magribi
6. Pangeran Nguc;lung
7. Pangeran Modang
8. Sunan Geseng
9. Seh Molana

P. SCN
1. Suhunan _Bayat
2. Prabu Satmata
3. Suhunan Benang
4. Suhunan Kali Jaga
5. Suhunan Ngampel Denta
6. Suhunan Kudus
7. Seh Siti Jenar
8. Seh Bentong
9. Pangeran Palembang
10. Seh Molana
11. Molana Magribi
1-2. Panembahan Madura.
Periode Demak
13. Kangjeng Suhunan Giri Kedaton
14. Kangjeng Suhunan ing Tand~s __
15. Kangjeng Suhunan ing Majagung
16. Kangjeng Suhunan ing Benang
1 7. Kangjeng Suhunan ing Wuryapada
18. Kangjeng Suhunan ing Kalinyamat
19. Kangjeng Suhunan ing Gunung Jati
20. Kangjeng Suhunan Kajenar.

Periode Pajang

21. Kangjeng Suhunan Giri Prapen
22. Kangjeng Suhunan ing Darajat
23. Kangjeng Suhunan Ngatasangin
24. Kai i Jag a
25. Kangjeng Suhunan ing T embayat
26. Kangjeng Suhunan ing Padusan
27. Kangjeng Suhunan ing Kudus
28. Kangjeng Suhunan Geseng.

Q. Nl
1. Suhunan Bonang
2. Suhunan Majagung
3. Suhunan Cerbon
4. Seh Lemang Abang
5. Seh Bentong
6. Seh Molana Magribi
7. Suhunan Ampel Denta
8. Suhunan Giri
9. Suhunan Kali Jaga

R. N2
1. Suhunan Bonang
2. Suhunan Kali Jaga
3. Suhunan Kudus
4. Suhunan Cerbon
5. Pangeran T embayat
6. Pangeran Pakaos
7. Suhunan Gunung Jati
8. Suhunan Palembang
9. Seh Lemah Bang
10. Pangeran Kajoran
11. Suhunan Iman
12. Suhunan Seh Nur Iman

S. N3
1. Pangeran Bonang
2. Pangeran Kali Jaga
3. Pangeran Cerbon
4. Pangeran Giri Gajah Kedaton
5. Pangeran Giri Kedaton
6. Pangeran Adilangu
7. Pangeran Kudus
8. Pangeran Lemah Abang
9. Pangeran Alas
10. Pangeran Majagung
11. Pangeran Tembayat
12. Pangeran Palimbang
13: Pangeran Pahus

T. RAF
1. Sunan Ampel
2. Sunan Bonang of T uban
3. Sunan Undung of Kudus
4. Sunan Giri of Gresik
5. Sunan Agum or Mulana Jumadil Kubra of Cheribon
6. Sunan Draja of Sidayu
7. Sunan Kali Jenar
8. Sunan Kali Jaga
9. Sunan Tanggung of Tegal.

U. LEK
1. Sunan Ampel atau Raden Rahmat
2. Malik Ibrahim atau Molana Magribi
-3. Sunan Giri atau Raden Paku
4. Sunan Drajat putra Sunan Ampel
5. Sunan Bonang atau Mahdunl Ibrahim
6. Sunan Murya putra Pangeran Gadung
7. Su nan Kali Jag a a tau Su nan Lepen
8. Sunan Gunung Jati asal Pase
9. Seh Abdul M uhyi
10. Siti Jenar
11. Sunan Geseng
12. Sunan Panggung
13. Sunan Kudtis · ·.·
14. Sunan Ngudung
15. Sunan T em bayat.

V. SN
1. Sunan Ampel
2. Sunan Giri
2. Sunan Bonang
4. Sunan Kali Jaga
5. Sunan Gunung Jati
6. Sunan Kudus
7. Sunan Drajat
8. Sunan Murya
9 .Sunan Panggung.

Penulis Kasepuhan Luhur Kedaton
Sumber dari berbagai sumber yang Mashur.

Related Articles

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terbaru

Adblock Detected!

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by whitelisting our website.