KontrasTimes.Com, – Presiden Prabowo Subianto secara konsisten menunjukkan perhatian yang mendalam dan prioritas tinggi terhadap upaya penanganan penyintas, rehabilitasi, dan rekonstruksi pascabencana banjir serta tanah longsor yang melanda Provinsi Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar) pada akhir tahun lalu. Komitmen ini tidak hanya sebatas pernyataan, melainkan terwujud dalam serangkaian kunjungan langsung dan arahan strategis yang mempercepat pemulihan di tiga provinsi tersebut, menegaskan solidaritas kepemimpinan di tengah kesulitan masyarakat.
Bencana hidrometeorologi yang terjadi pada penghujung tahun sebelumnya telah meninggalkan jejak kehancuran yang signifikan di berbagai wilayah Sumatra. Curah hujan ekstrem memicu banjir bandang, merendam ribuan rumah, lahan pertanian, dan fasilitas umum. Longsor susulan juga memutuskan akses jalan, merusak infrastruktur vital, dan mengancam keselamatan warga. Ribuan jiwa terpaksa mengungsi, kehilangan tempat tinggal dan mata pencarian. Skala kerusakan yang meluas dan kompleksitas geografis daerah terdampak menuntut respons cepat dan terkoordinasi dari seluruh elemen pemerintah, di bawah komando langsung Presiden.
Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatra, Muhammad Tito Karnavian, menjadi saksi langsung atas atensi besar Presiden Prabowo. Tito mengungkapkan hal ini setelah mendampingi Presiden melaksanakan salat Idulfitri 1447 Hijriah bersama masyarakat di Masjid Darussalam, yang berlokasi di komplek hunian sementara (huntara) Karang Baru, Aceh Tamiang, Aceh, pada Sabtu (21/3/2026). Pilihan lokasi ini bukan kebetulan, melainkan cerminan dari keinginan tulus Presiden untuk berada di tengah-tengah para pengungsi, merasakan langsung penderitaan mereka, dan memberikan dukungan moral yang tak ternilai.
Menurut Tito, niat Presiden untuk salat bersama pengungsi di daerah bencana sudah ada sejak jauh hari. Ini menunjukkan betapa kuatnya rasa solidaritas dan empati Prabowo, terutama pada momen sakral seperti perayaan Lebaran. "Ada beberapa tempat yang kami siapkan, tetapi beliau memilih tempat yang ada pengungsinya, yaitu masjid di huntara yang dibangunkan Danantara. Alhamdulillah, kita tahu, semua berjalan dengan lancar," kata Tito, menggambarkan kesederhanaan namun penuh makna dari kehadiran Presiden. Kehadiran pemimpin negara di tengah-tengah mereka yang paling membutuhkan, khususnya di hari raya, memberikan pesan kuat tentang perhatian dan kepedulian pemerintah.
Kunjungan ke Aceh Tamiang ini juga menjadi bukti nyata perhatian Presiden terhadap perkembangan rehabilitasi di ketiga daerah terdampak. Tito Karnavian menegaskan bahwa upaya pemulihan kini mulai menunjukkan progres yang signifikan di berbagai sektor, berkat dorongan dan pengawasan langsung dari kepala negara. Perhatian serupa juga ditunjukkan Prabowo ketika merayakan pergantian tahun 2026 bersama masyarakat Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumut. Kedua momen ini, baik perayaan tahun baru maupun Idulfitri, dipilih secara strategis oleh Presiden untuk berada di tengah masyarakat yang sedang berjuang, menggarisbawahi komitmennya untuk tidak meninggalkan mereka yang terdampak bencana.
"Ini adalah atensi beliau yang luar biasa di momentum yang sangat suci di bulan Ramadan, dan beliau melaksanakan salat Idulfitri bersama-sama dengan pengungsi di Aceh Tamiang sebagai simbol," tambah Tito. Simbolisme ini jauh melampaui sekadar kunjungan protokoler. Ini adalah representasi dari sebuah kepemimpinan yang merakyat, yang memilih untuk berbagi suka dan duka dengan warganya, terutama di saat-saat paling rentan. Pesan yang ingin disampaikan jelas: pemerintah hadir, peduli, dan akan terus bekerja hingga pemulihan tuntas.

Tito Karnavian juga menyampaikan bahwa Presiden Prabowo secara khusus memberikan apresiasi atas sinergi lintas sektor yang telah terjalin dengan baik dalam pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi di Sumatra. Koordinasi yang kuat antara berbagai kementerian, lembaga pemerintah daerah, TNI/Polri, organisasi non-pemerintah, dan sektor swasta, menjadi kunci utama keberhasilan sejauh ini. Sinergi ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pembangunan infrastruktur fisik yang rusak parah, pemulihan pasokan listrik dan bahan bakar minyak (BBM), hingga penyediaan layanan dasar esensial seperti fasilitas kesehatan dan pendidikan.
"Beliau (Prabowo) memberikan apresiasi karena sudah mendekati normalitas," ujar Tito. Indikator normalitas ini terlihat dari mulai menggeliatnya kembali sektor ekonomi lokal, dengan bangkitnya aktivitas jual beli di pasar-pasar tradisional yang sebelumnya lumpuh. Pemulihan infrastruktur jalan dan jembatan telah membuka kembali akses logistik, memungkinkan distribusi barang dan jasa kembali berjalan lancar. Pasokan listrik yang stabil dan ketersediaan BBM yang mencukupi juga menjadi pendorong utama roda perekonomian dan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Namun, Tito menambahkan bahwa pekerjaan Satgas PRR belum sepenuhnya selesai. "Kami akan terus bekerja untuk menyelesaikan beberapa persoalan lain, seperti mempermanenkan jalan, jembatan dan sungai yang harus kita normalisasi, fasilitas pendidikan juga harus dibereskan," tegasnya. Ini menunjukkan bahwa meskipun progres telah dicapai, masih ada tantangan besar yang menanti, terutama dalam fase rekonstruksi jangka panjang yang membutuhkan perencanaan matang dan eksekusi yang cermat. Normalisasi sungai, misalnya, adalah langkah krusial untuk mencegah terulangnya banjir di masa mendatang, sementara pembangunan kembali fasilitas pendidikan memastikan masa depan generasi muda tidak terhambat oleh dampak bencana.
Sebagai langkah lanjutan, Satgas PRR akan memprioritaskan percepatan relokasi sisa pengungsi yang masih berada di hunian sementara. Hingga Sabtu (21/3), tercatat masih ada 26 kepala keluarga di Aceh Tamiang yang menunggu kepastian tempat tinggal permanen. Proses relokasi ini bukan hanya soal menyediakan rumah, tetapi juga memastikan akses terhadap mata pencarian, layanan dasar, dan integrasi kembali ke dalam masyarakat.
Pada saat bersamaan, percepatan rehabilitasi tambak dan sawah yang rusak di sejumlah wilayah Aceh, Sumut, hingga Sumbar juga menjadi fokus utama. Sektor pertanian dan perikanan merupakan tulang punggung ekonomi bagi banyak komunitas di daerah terdampak. Kerusakan lahan pertanian dan tambak berarti hilangnya sumber pendapatan utama bagi ribuan keluarga. Oleh karena itu, pemulihan sektor ini sangat vital untuk mengembalikan kemandirian ekonomi masyarakat dan memastikan ketahanan pangan regional. Langkah-langkah seperti penyediaan bibit unggul, bantuan pupuk, perbaikan irigasi, dan pendampingan teknis kepada petani dan petambak menjadi bagian integral dari strategi pemulihan ini.
Tito Karnavian juga mengungkapkan rencana konkret terkait pembangunan hunian permanen (Huntap). "Kita juga akan bekerja keras untuk proses yang berikutnya yaitu Huntap, baik yang insitu oleh BNPB dan yang komunal yang kompleks. Saya sudah rapat berkali-kali dengan Menteri PKP. Setelah Lebaran akan kita eksekusi," pungkas Tito. Pembangunan Huntap insitu (di lokasi yang sama atau berdekatan) dan komunal (di area yang lebih besar) memerlukan koordinasi yang erat dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Tantangan dalam pembangunan Huntap mencakup ketersediaan lahan yang aman, desain yang tahan bencana, dan partisipasi aktif dari masyarakat terdampak agar rumah yang dibangun sesuai dengan kebutuhan dan budaya lokal.
Komitmen Presiden Prabowo dan kerja keras Satgas PRR mencerminkan pendekatan komprehensif pemerintah dalam menanggulangi dampak bencana. Dari respons darurat, pembangunan hunian sementara, hingga rehabilitasi dan rekonstruksi jangka panjang, setiap tahapan dijalankan dengan tujuan akhir mengembalikan kehidupan masyarakat ke kondisi normal yang lebih baik dan lebih tangguh. Kehadiran langsung Presiden di daerah terdampak bukan hanya memberikan dukungan moral, tetapi juga menjadi pendorong utama bagi seluruh jajaran pemerintah dan mitra kerja untuk terus mempercepat proses pemulihan, memastikan bahwa tidak ada satu pun warga yang tertinggal dalam upaya membangun kembali harapan dan masa depan yang lebih cerah.