PENYEBAB KEMATIAN MAHASISWA UNIVERSITAS BAKTI PGRI DI BALURAN MASIH MISTERI, LSM PENJARA DESAK USUT TUNTAS

Redaksi
A-AA+A++

KONTRAS TIMES, SITUBONDO – Penyebab kematian Alinakil Fuad, mahasiswa Universitas Bakti PGRI Situbondo, saat mengikuti Diklat MahasMapala di kawasan hutan Baluran, Kecamatan Banyuputih, hingga kini masih misteri.

Korban meninggal setelah sempat mengeluh sakit, kedinginan, dan kelelahan saat perjalanan. Setelah sempat istirahat dan kembali berjalan, kondisinya kembali drop hingga tak mampu melanjutkan perjalanan.

Panitia kemudian membawa korban ke posko di tengah hutan. Namun apa yang terjadi di posko, siapa yang menangani, dan pertolongan apa yang diberikan, hingga kini belum ada penjelasan resmi.

Korban kemudian dievakuasi menggunakan sepeda motor sejauh sekitar 40 kilometer dengan waktu tempuh lebih dari satu jam. Belum jelas kapan korban tiba di fasilitas kesehatan, kapan diperiksa dokter, dan kapan resmi dinyatakan meninggal dunia.

Informasi kematian baru diterima keluarga sekitar pukul 23.00 WIB. Jenazah diantar ke rumah di Kecamatan Mangaran oleh tiga orang yang disebut dari pihak panitia.

Ketua DPC LSM Penjara Indonesia, Mukhsin Al Fajar, yang mendatangi kediaman ayah korban, Suri, mendesak semua pihak membuka kronologi secara jujur dan transparan.

“Kami mendesak universitas, panitia, dan pembina MahasMapala untuk tidak menutup-nutupi. Keluarga berhak tahu penyebab pasti kematian anaknya. Publik berhak tahu ada kelalaian atau tidak,” tegas Mukhsin.

LSM Penjara mempertanyakan sejumlah hal krusial yang berkaitan langsung dengan penyebab kematian:

1. Apakah korban diperiksa kesehatannya sebelum kegiatan?
2. Mengapa korban yang sudah mengeluh sakit tetap dibiarkan kembali melanjutkan perjalanan?
3. Apa pertolongan pertama yang diberikan di posko? Apakah ada tenaga medis dan P3K?
4. Siapa yang memutuskan evakuasi dengan sepeda motor, bukan ambulans?
5. Mengapa evakuasi harus menempuh 40 km lebih dari satu jam?
6. Kapan sebenarnya korban meninggal di posko, di perjalanan, atau di fasilitas kesehatan?

“Jika korban sudah menunjukkan gejala bahaya tapi tetap dilanjutkan, lalu evakuasi lambat dan tanpa standar medis, ini tidak bisa dianggap sekadar musibah. Ini harus diusut,” tegas Mukhsin.

Saat dikonfirmasi, Rektor Universitas Bakti PGRI Situbondo hanya menjawab singkat: “Insyaallah Senin kami infokan kembali.”

Pembina MahasMapala yang dikonfirmasi via WhatsApp hingga kini belum menjawab.

Sementara Kapolsek Mangaran mengaku belum mengetahui adanya warga Mangaran yang meninggal saat Diklat. Kapolsek Banyuputih belum berhasil dihubungi.

LSM Penjara menegaskan akan terus mengawal kasus ini hingga ada kejelasan penyebab kematian dan pertanggungjawaban.

“Kami akan laporkan secara kelembagaan jika tidak ada penjelasan terbuka. Nyawa mahasiswa tidak boleh hilang tanpa kejelasan. Keselamatan harus jadi prioritas, bukan sekadar formalitas proposal,” pungkas Mukhsin.

Penyebab pasti kematian dan ada tidaknya kelalaian belum dapat disimpulkan. Hak jawab dan klarifikasi tetap terbuka untuk panitia, pembina, universitas, fasilitas kesehatan, dan kepolisian secara proporsional.

Vertikal Iklan Kontras times
Writer: KarsonoEditor: Red